Sabtu, 26 November 2016

tak bisa dibayangkan

Malam ini, aku baru saja pulang sekolah. Rutinitas di sekolahku yang sangat padat inilah yang membuatku harus pulang sekolah pada pukul hampir sebelas malam. Bayangkan saja, sesudah kegiatan mengajar di kelas langsung dilanjutkan kegiatan eskul yang sangat panjang tidak seperti pada hari-hari biasanya. Menyebalkan sekali, bukan?
Kali ini, aku berjalan kaki ke rumah melewati gang yang biasa kulewati agar dapat mempercepat waktuku ke rumah. Aku sempat merasakan hawa aneh saat melewati gang ini. Tapi, aku mencoba untuk tak mengidahkannnya. Lagipula, hari ini sudah sangat malam dan pastinya orang-orang di sekitar sini sudah pergi menuju alam mimpinya, kan? Tidak tega juga jika aku berteriak ketakutan dan membangunkan orang tanpa kesalahan itu. Apalagi jika dia baru melewati jembatan menuju alam mimpi. Hii~
Langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada sebuah lampu jalan yang bersinar terang benderang. Sorot mataku menangkap seorang gadis yang tengah menekuk lututnya sambil terisak. Aku memperjelas penglihatanku dan benar saja, penglihatanku tidak salah. Itu benar-benar manusia.
“Kenapa ada seseorang yang menangis disini?” Gumamku penasaran. Aku berupaya untuk mencoba mendekati gadis itu. Tapi, belum satu langkah, aku sudah memberhentikan langkahku. Pikiran aneh-aneh muncul di benakku.
“Bagaimana jika dia hantu?”
“Atau orang jahat?”
“Tolong dia atau tidak, ya?”
Itulah yang ada di benakku. Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku dan mencoba berpikir positif. Aku meremas erat ujung rokku dan berjalan dengan hati-hati kearah perempuan itu.
“Ada apa denganmu?” Tanyaku pelan saat sudah mendekati gadis itu. Tidak ada jawaban.
Aku melihat wajahnya yang perlahan-lahan muncul. Kurasa dia cukup cantik dengan wajah putih pucatnya dan mulutnya yang berwarna peach.
Dia menatapku sendu. Mataku tertuju pada iris matanya. Iris matanya yang berwarna coklat yang menurutku juga cantik selain dari kulitnya yang putih.
“Beritahu aku, ada apa denganmu? Siapa tau aku bisa menolongmu” Bujukku sekali lagi. Aku memutuskan jika tidak ada jawaban darinya sekali lagi, dengan berat hati aku akan berlari meninggalkannya. Tentunya, dengan menggunakan kekuatan super.
“Kakiku… kakiku sakit…” Ucapnya pelan. Sangat pelan. Untungnya aku bisa mendengarnya. Aku melihat ke arah kakinya. Mataku membulat sempurna saat melihat keadaan kakinya. Lututnya… kedua lututnya dipenuhi darah!
“Kau baik baik saja?” Ucapku cemas. Aku melihat kiri kanan melihat apotek yang masih buka malam-malam begini. Iris mataku tertuju pada sebuah toko yang masih dipenuhi oleh cahaya lampu.
“Naiklah ke punggungku, aku akan mengobatimu” Perintahku sambil melepaskan tas yang dari tadi aku sandang. Yah, walaupun aku mengikuti eskul vokal, tapi, bukan berarti aku tidak tahu dengan yang namanya p3k.
“Eh, tapi… apa tak apa? Apa aku tak merepotkanmu?” Tanya gadis itu menatapku khawatir. Aku tersenyum ke arahnya.
“Tak apa, aku gadis yang kuat, kok!” Ucapku. Aku berlutut membelakanginya. “Ayo naik” Perintahku meliriknya sambil tersenyum. Ia membalas senyumku dan perlahan-lahan menaiki punggungku sambil mengalungkan kedua lengannya di leherku. Aku kemudian berdiri dan membawanya ke salah satu toko terdekat.
“Kau ringan juga, ya” Ucapku sambil tertawa kikuk untuk menghilangkan kecanggungan. Padahal, sebenarnya agak berat sih.
Akhirnya, kami tiba di sebuah apotek yang menjadi tujuan kami. Aku mendudukannya di salah satu bangku yang tersedia di apotek itu. Aku memasuki apotek itu dan membeli sejumlah handplast dan obat merah.
“Siapa namamu?” Tanyaku sambil fokus mengoleskan obat merah di kedua lututnya yang terluka.
“Alanna” Ucapnya sambil sesekali mengaduh.
“Alanna? Perkenalkan, namaku Tamara. Salam kenal denganmu” Ucapku melihatnya sambil tersenyum. Kemudian, tak lama kemudian aku menutup lukanya dengan handplast.
“Terimakasih, Tamara” Alanna memandang kearahku sambil tersenyum senang. Aku mengangguk dan kemudian membalas senyumannya lebih ramah. Aku kembali menyandangkan tasku dan duduk di sampingnya.
“Apa yang terjadi padamu hingga lututmu terluka?” Tanyaku penasaran sambil memandang ke arahnya.
“Aku kurang hati-hati. Tadi, aku ingin membeli sesuatu dan saat aku ingin kembali, aku tersandung dan lututku tergores” Jelasnya dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya. “Tak apa, aku baik baik saja!” Sambungnya kemudian.
Di dalam benakku berpikir, dia ini gadis yang kuat sekali.
Aku mengangguk mendengar perkataannya dan kemudian berdiri. Aku melihat jam yang melekat di dinding apotek.
“Kau ingin pulang? Ini sudah jam 11 malam” Ucapku memberitahu. Alanna hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak, aku ingin disini sebentar” Ucapnya.
“Apa kau serius? Sini, aku antar. Dimana rumahmu?” Tanyaku memandang kearahnya.
“Ah, tak usah repot-repot, Tamara. Aku bisa pulang sendiri” Ucapnya sambil tersenyum tipis.
“Tapi tidak enak rasanya membiarkan anak lebih kecil dariku pulang sendirian di malam hari begini” Tukasku tetap ngotot ingin mengantarkannya. Yah, dia memang lebih kecil dariku jika kulihat dari segi fisik. Kira-kira… dia masih bocah sekolah menengah pertama, lah.
Aku mengulurkan tanganku berharap dia membalas uluran tanganku. Dan, harapanku terkabul setelah sekian banyak penolakan. Aku tersenyum bangga dan membantunya berjalan. Di sepanjang perjalanan kami berbincang banyak sekali. Kurasa, kami bisa menjadi teman baik.
“Ah, sekian banyaknya pembicaraan aku lupa menanyakan dimana rumahmu, hehe. Jadi, dimana rumahmu, Na?” Tanyaku melirik kearahnya. Alanna memandangku sambil menunjuk tempat yang tak jauh dari rumahku.
“Jadi, kita bertetangga? Haha, ini lucu sekali” Ucapku tertawa walaupun tidak ada hal yang lucu. Alanna hanya tertawa pelan.
Kami terhenti di sebuah rumah yang besar. Alanna berdiri didepan pagar rumahnya sambil melambaikan tangannya kepadaku.
“Sampai jumpa, Tam. Terimakasih sudah mengantarkanku” Ucapnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Aku mengangguk dan kemudian membungkuk sopan. Aku kemudian menjauhi rumah itu sambil melambaikan tanganku.
Aku tersenyum senang selama dalam perjalanan ke rumahku. Siapa tau kegiatan sekolah yang membosankan itu dapat membuatku mendapat teman baru yang sempurna? Hah, pokoknya besok aku akan berkunjung ke rumahnya!
Kini, aku berada didepan rumahku. Baru saja aku ingin membuka pagar, Ibuku langsung memelukku dengan erat. Sangat erat. Hampir membuatku tidak bisa bernafas. Aku melepaskan pelukannya sebelum nafasku habis.
“Ada apa sih bu?” Tanyaku heran. Aku memandang ibuku sambil mengerutkan dahiku.
“Kau.. kau tadi lewat gang yang biasa kau lewati?” Tanya Ibuku dengan nada khawatir. Aku mengangguk tanpa ada pikiran yang negatif.
“Hah, syukurlah, nak. Kau masih diberi kesempatan hidup” Ucap Ibu mengelus dadanya lega. Ia kemudian memelukku kembali. Aku melihat ke arah ibuku.
“Memangnya.. ada apa bu?” Tanyaku penasaran. Ibuku melepaskan pelukannya dan memandangku.
“Kudengar, ada seorang anak gadis sekolah menengah tingkat pertama telah terbunuh di gang itu. Kudengar, dia dihadang oleh gangster dan mencoba melawannya. Tapi, karena perlawanannya, si gangster itu tidak terima dan malah menikam gadis itu hingga kehabisan darah”
Glek! Aku meneguk salivaku gugup. J-jadi… Alanna itu… H-hantu?!
“Tapi, untungnya kau selamat” Ucap Ibuku sambil menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Aku yang dari tadi merasa terkejut pun berusaha menyunggingkan sebuah senyuman agar tidak menimbulkan curiga. Wajahku pasti sudah pucat pasi sekarang.
Aku merasakan ada seseorang yang tengah mengawasiku dari arah belakang. Aku memutarkan badanku dan melihat siapa yang mengawasiku. Alangkah terkejutnya aku saat melihat siapa yang mengawasiku. Alanna, ya, dia Alanna. Dia sedang tengah tersenyum manis kearahku.
“Terimakasih, Tam. Sekarang kau sudah tahu kan? Kau sungguh orang yang baik” Ucapnya pelan namun entah kenapa terdengar ke indra pendengaranku. Aku terkejut dan melangkah mundur perlahan. Mulutku bungkam dan tak bisa berkata apa-apa. Aku segera membalikkan badanku dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah.
“Hei, nak! Ada apa?” Tanya ibuku penasaran. Aku tak menjawabnya. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah kejadian tadi. Kejadian aku terlalu baik kepada Hantu. Aku mengintip dari jendela saat melihat banyak mobil polisi dan ambulan berpacu melewati rumah kami menuju gang itu. Aku menutup telingaku tidak ingin mendengar sirine dari kedua mobil itu. Aku cepat-cepat menjauhi jendela itu.
Aku hanya berharap, waktu diputar kembali agar aku mengetahui gang itu sedang mengalami masa kelam dan aku tidak akan melewati gang itu jika aku mengetahuinya. Ini.. benar-benar tak bisa dibayangkan.

misteri nyai konde

Siang itu Lia pergi ke rumah sahabatnya yaitu Adel, sampai di depan pintu Lia mengucapkan salam dan mengetuk pintu… “Assalamualaiku Adel… Assalamualaikum Adel…” Adel pun menjawab salam dan membuka pintu dan mempersilahkan Lia untuk masuk. “Adel kamu udah siap belum untuk pelantikan besok…?” tanya Lia, “Pastinya udah dong…” jawab Adel “Kamu besok berangkat jam berapa Lia…?” “Mmm… Jam dua lebih lima belas menit aja deh…” “Tapi kan kata pak Agung akan ada upacara pembukaan dulu jam dua pas…” “Oh… iya, aku berangkat ke sekolahan jam satu lebih empat puluh lima menit aja deh… Kalo kamu berangkat jam berapa Del…?” “Aku juga sama kayak kamu jam satu lebih empat puluh lima menit aja.”
Tak terasa waktu pun semakin sore “Ya udah aku pulang dulu ya… Takutnya bunda nyariin aku soalnya udah sore… aku pulang dulu ya… Assalamualikum…” “Ya udah iya… Waalaikumsalam.”
Keesokan harinya…
“Bunda ayo cepat… Nanti aku terlambat…” Kata Lia kepada Bundanya, “Iya Lia tunggu sebentar bunda lagi siap-siap dulu… kamu coba cek barang-barang kamu dulu aja siapa tau ada yang tertinggal.” “Iya bunda…”
Sesampainya di sekolahan Lia langsung mencium tangan orangtuanya dan langsung mencari Adel. Ternyata Adel sudah ada di dalam ruang sekretariat marching band bersama yang lainnya. Lalu pak Agung mengumumkan kepada seluruh peserta pelantikan gabungan untuk berbaris di lapangan karena upacara pembukaan akan segera dilaksanakan. Lia, Adel, dan teman-teman yang lainnya segera berkumpul di lapangan. Setelah upacara pembukaan, semuanya langsung masuk ke dalam mobil truk dan langsung berangkat menuju ke tempat pelantikan.
Sesampainya di tempat pelantikan, semuanya langsung mendirikan tenda, setelah mendirikan tenda… Pembina menyuruh kepada para peserta pelantikan untuk melaksanakan shalat Ashar. Setelah shalat Ashar Lia langsung masuk ke dalam tenda, Lia satu tenda dengan Adel, Nita, dan juga Windi. Kakak kelas memperbolehkan mereka istirahat sampai sebelum waktu shalat Maghrib. Adel iseng-iseng melihat bumi perkemahan mereka di internet yaitu bumi perkemahan “Alam Cherbond” lalu adel menemukan sebuah paragraf dengan judul “Misteri Bumi Perkemahan Alam Cherbond dengan Nyai Konde” lalu Adel memanggil Lia untuk membaca paragraf tersebut bersama-sama “Ehh… Lia sini deh coba baca paragraf ini…” Kata Adel, Lia membaca judul paragraf tersebut “Misteri Bumi Perkemahan Alam Cherbond dengan… Loh bukannya ini adalah bumi perkemahan kita sekarang…”
Malam itu diisi dengan penuh kegiatan yang sangat menyenangkan, tetapi tiba-tiba salah satu kakak kelas yang bernama kak Anis meminta izin kepada ketua untuk pergi ke tendanya dan berpesan kepada ketua untuk memindahkan lokasi kegiatan yang semula di depan hutan untuk pindah ke depan sawah. Lalu kak Indah selaku ketua bertanya kepada kak Anis mengapa harus pindah lokasi, tetapi kak Anis hanya menjawab lokasinya gak aman. Setelah kegiatan itu selesai… Para siswa diperbolehkan untuk tidur.
Malam-malam Adel ingin buang air kecil, Adel kemudian mengajak Lia untuk menemani nya. Saat ke luar dari tenda Adel dan Lia meminta izin kepada kak Anis, karena jarak WC perempuan yang cukup jauh maka kak Anis harus menemani mereka berdua. Setelah selesai dari WC, Adel menanyakan kepada kak Anis tentang Nyai Konde itu. Kak Anis memberi tau saat uji materi yang di depan hutan dia melihat seorang perempuan dengan rambut disanggul dan berhias bunga melati yang amat banyak dan memakai kebaya putih berada di sela-sela pepohonan hutan. Lalu tidak sengaja mereka bertiga menemukan sebuah tusuk konde yang sangat antik dan mereka mencium bau bunga melati yang sangat khas, kak Anis terlihat sangat takut dan Lia bertanya kepada kak Anis ada apa..? Kak Anis hanya bilang “Ayo. Kita harus cepat pergi yang jauh dari sini dan bangunkan semua orang untuk meminta pertolongan”
Mereka bertiga lari sekuat tenaga tetapi Nyai Konde terus mengejar mereka, ketika hampir sampai di tenda… Kak Anis tersandung batu dan menyuruh mereka untuk berteriak meminta tolong, dalam waktu kurang dari sepuluh menit seluruh orang menghampiri mereka bertiga dan bertanya ada apa… Kak Anis menjawab bahwa kami bertiga telah bertemu dengan Nyai konde dan dikejar olehnya. “Kak, aku juga tadi setelah Isya aku melihat seorang perempuan memakai kebaya putih di sela-sela pepohonan hutan…” Kata seorang anak laki-laki yang dikenal dapat melihat hal ghaib atau mempunyai indra keenam. “Berarti benar apa yang dikatakan kak Anis itu.” Celetuk Adel.
Malam berikutnya…
Adel terbangun karena Lia tidak ada di samping nya, lalu Adel memberitahu semua orang dan mereka langsung mencari Lia. Tiba-tiba terdengar suara Lia yang sedang bernyanyi layaknya sinden dengan sangat merdu dengan membawakan lagu yang khas dengan sinden, mereka pun langsung mencari Lia dan akhirnya menemukannya tetapi tingkah laku Lia sangatlah berbeda.
“Lia, kenapa kamu berada disini…? Lia, ayo kita kembali ke tenda…” Kata Adel, sahabatnya. “Siapa kalian…? Kenapa kalian menggangguku…? Ini adalah daerahku…! Kenapa kalian tidak meminta izin ku dulu, jika kalian akan menggunakan daerah ku untuk sementara…!? Dan kenapa kalian mengambil salah satu tusuk Konde ku…? Dan inilah akibatnya jika kalian tidak meminta izin terlebih dahulu kepadaku…!!” Kata Lia, tetapi jiwa yang ada dalam raga Lia bukanlah Lia. “Apakah engkau adalah Nyai Konde…?” Tanya kak Anis, “Benar… Memang benar… Aku adalah Nyai Konde yang selama ini mendiami daerah ini.” Ternyata benar dugaan kak Anis bahwa jiwa yang melekat pada raga Lia bukanlah Lia tetapi Nyai Konde. “Te… te… tetapi siapa yang mengambil tusuk kondemu Nyai…? Bukan kah kita me… meninggalkannya…!?” Tanya Adel dengan tergugup-gugup
“Iya… Kau memang meninggalkan tusuk kondeku, tetapi ada di antara kalian yang mengambil tusuk kondeku… Jika di antara kalian tidak ada yang mengaku mengambil tusuk kondeku aku akan menghabisi nyawa teman kalian ini…” Kata jiwa Nyai Konde yang masih berada di tubuh Lia. “Sebelum nya… a… a… aku ingin meminta maaf kepada seluruh orang… Nyai Konde aku i… ingin meminta maaf bahwa yang mengambil tusuk kondemu adalah aku… Tolong jangan habisi nyawa temanku… Dia tidak bersalah a… a… akulah yang bersalah, tolonglah keluar dari raga Lia… Ini tu… tusuk kondemu…” Ternyata Nitalah yang mengambil tusuk konde milik Nyai Konde dan Akhirnya Nita mengaku bersalah dan meminta maaf ke semua orang termasuk Nyai Konde, “Sebelum aku keluar dari raga teman kalian ini aku ingin meminta tolong kepada kalian untuk menemukan jasadku yang telah di buang oleh sahabatku sendiri yaitu Nyai Sagara dia iri dengan suaraku yang merdu dia mengutus seluruh isi lautan untuk membunuhku, tetapi Nyai Melati menolongku sampai bertahun-tahun dan akhirnya aku pun terbunuh oleh Nyai Sagara sendiri dan tolong ucapkan kepada Nyai Melati aku sangat berterima kasih kepadanya. Tolong lah aku agar jiwa ku tenang di alam sana.” Ucap Nyai Konde. “Tetapi dimana kita tau lokasi tubuh Nyai Konde…?” Tanya Windi, “Tanyakanlah pada Nyai Melati yang biasa memunculkan diri di hutan Melati sana.” Kata Nyai Konde sambil menunjuk ke arah hutan di sebelah selatan. Akhirnya jiwa Nyai Konde pun keluar dari raga Lia.
Setelah dua hari berturut-turut jasad Nyai Konde di temukan di dalam sebuah goa yang sudah tua. Tanpa disengaja Adel menoleh ke arah pepohonan yang berada disekitar goa, terlihat sosok Nyai Konde yang sedang tersenyum bahagia dan melambaikan tangan tanda perpisahan kepada Adel. Akhirnya misteri tentang Nyai Konde pun berakhir.

revealed

Jam menunjukan pukul 15.15, bel pulang berbunyi, seluruh murid membereskan alat tulis dan bergegas untuk pulang. Beberapa menit kemudian seluruh siswa pulang, sekolah menjadi sepi. Berbeda denganku, aku pergi tidak untuk pulang namun aku pergi ke gedung sekolah lama yang sudah tua bersama 3 orang temanku. Namaku Nicole Jocelyn, dan 3 orang temanku bernama Aisley, April, Caroline.
Di gedung sekolah lama aku mencari barang temanku yang tertinggal di dalam sini berupa kalung, kami tidak hanya mencari kalung itu, kami juga melakukan penelitian di dalam gedung sekolah tua ini. Entah mengapa kami pindah gedung sekolah, namun kerap kali aku mendengar cerita orang tentang gedung ini ternyata pada malam hari gedung sekolah ini pernah terjadi pembunuhan sadis dan korbanya adalah penjaga sekolah ini, tidak diketahui apa motif pembunuhan ini. Sejak saat itulah sering terdengar cerita mistis. Dan akhirnya pengelola sekolah menyuruh kepala sekolahku untuk pindah di gedung. Mmm… memang sih ketika memasuki gedung sekolah lama angin selalu berhembus kencang dan kerap kali terdengar suara langkah kaki serta pintu terbuaka dengan sendirinya. Tetapi hal ini tidak membuatku dan teman-temanku merasa takut.
Setelah lama mencari kalung itu dan kami menyerah tiba-tiba terdengar suara gemerincing seperti kalung jatuh, benar saja kalung temanku jatuh tepat di bawah jam tua yang besar. Temanku langsung mengambilnya, tiba-tiba jam tua itu berdetak dan jarum jamnya menunjukan waktu 15.58 aku dan teman-temanku terkejut melihat jam tua itu berfungsi karena sudah lama jam ini tidak berfungsi, seketika angin masuk dengan kencang dan pintu utama tertutup pandanganku menjadi kabur akibat hembusan angin “cole! kau mendengarku?” Tanya April “ya!!! Sebaiknya kita menuju pintu utama dan langsung membukanya” jawabku “Tunggu!! Ada yang aneh disini” ujar Carrie sambil menunjukan buku tua yang ada di dalam jam tua itu “memangnya ada apa?” Tanya Aisley “lihat ini” jawab Carrie, Aku pun langsung berjalan menuju arah Carrie tidak kusangka itu adalah buku tua yang ada di dalam mimpiku.
“Carrie, coba kulihat buku itu” ujarku
“Ini” Carrie
“Mmm.. aku ingin menceritakan pada kalian” ujarku
“Coba ceritakan pada kami” Aisley
“Baiklah tapi tidak di tempat ini, sebaiknya kita ke luar dari sini” jawabku
“Ummm… ayo!”
Aku membawa buku itu seketika tubuhku lemas, namun kumantapkan langkahku untuk ke luar dari gedung ini.
Tidak lama kemudian suasana menjadi berbeda keheningan dan hembusan angin kencang meghilang.
“Sebaiknya kita duduk di bangku taman sekolah saja” ujar April
“Baiklah, ayo kita kesana”
Tidak beberapa lama aku duduk bersama temanku di taman sekolah dan aku langsung menceritakan yang aku alami di mimpiku.
“Cole cepat ceritakan pada kami” ujar Carrie
“Baiklah. Ketika aku sedang tertidur, tiba-tiba mimpiku berubah menjadi gelap dan buku ini ada di mimpiku. Buku ini terbuka dari hembusan angin yang membuka halaman 133. Di dalam mimpiku halaman ini membahas tentang kematian sesorang tanpa sebab”. Jawabku
“Ha! Benarkah begitu Cole”
“Ya di mimpiku seperti itu”
“Coba kita buka halaman itu” ujar Aisley
Ternyata benar halaman ini menguak tentang kematian seseorang tanpa sebab, di halaman ini terdapat nama seseorang nama itu adalah Alveisyn G Lorence.
“siapakah orang ini apa dia pelakunya?, sebaiknya kita cari tau tentang orang ini” Carrie
“Sebentar, lihatlah tulisan kuno ini” Aisley
“Sepertinya aku bisa membaca tulisan kuno ini” jawabku
“Benarkah, darimana kau belajar tentang tulisan kuno macam ini” tanya April
“Kakekku yang mengajariku membaca tulisan semacam ini, kakekku diajarkan oleh ayahnya”. Jawabku
“Kalau begitu cepatlah terjemahkan tulisan ini” ujar Carrie
“Pem…bunuhan… tidak… akan ber… henti… sampai… anak… itu …. DEATH!, 15.58 am. 11-10-1979”
“Damn!!, sebenarnya ada apa dengan hidup Lorence dan anak yang dimaksud” ujar April
“Entahlah” jawabku
Seketika hembusan angin datang namun tidah kencang, tiba-tiba bahuku dipegang oleh seseorang aku kaget dan langsung menoleh ke belakang
“Huh.. paman Rue” ujarku sambil terkejut
“sebaiknya kalian pulang hari sudah mulai sore” ujar paman Rue
“Baiklah paman” kami bersiapa-siap untuk pulang.
“Sampai jumpa paman!”
Paman tersenyum… sambil melambaikan tangan
Paman Rue adalah pria parubaya penjaga sekolah baruku beliau sudah lama menjaga sekolah, keluarganya tinggal di dekat sekolah, namun beliau hanya tingga bersama istrinya.
Malam hari. Terdengar suara handphone berbunyi ketika aku sedang bermain game. suara ini sangat menggangguku, ketika aku sedang asik bermain game. Ternyata ini telepon dari Aisley, kutekan tombol jawab dan aku langsung bicara “ada apa kau meneleponku malam-malam?”
“Cole… help us” jawab Aisley
Seketika tubuhku kaku dan aku sangat terlejut “a..apa yang terjadi denganmu dan keluargamu?” Tanyaku
“Seseorang ingin membunuhku dan orangtuaku” jawab Aisley sambil menangis kesakitan
“Baiklah kau tenang sebentar aku akan pergi ke rumahmu bersama orangtuaku dan menelepon polisi” ujarku
“Cole cepatlah kau datang aku sangat meminta bantuanmu… cole hati-hat…” jawab Aisley
“Tuttuttut… panggilan terputus, halo! Halo! AISLEY!”. Tanyaku sambil cemas. Aku langsung mengambil jaket dan turun ke bawah menyuruh ayah dan ibu untuk menemaniku ke rumah Aisley dan kutelepon Polisi untuk segera menuju rumah Aisley.
Setelah sampai di rumah Aisley aku langsung masuk rumah Aisley bersama ayah dan polisi, ibuku menunggu di luar. Tidak kusangka aku sangat terkejut menemukan mayat Aisley bersama orangtuanya sedang tergantung di langit-langit atap rumah. Disitu aku sangat sedih, menangis, dan tubuhku menjadi lemas. Aku meringis, karena aku kalah cepat dengan pembunuh itu. Tidak lama kemudian ibuku menelepon ambulan, mayat Aisley dan orangtuanya segera dibawa ke rumah sakit untuk diurus.
Setelah beberapa menit kemudian polisi menemukan surat bertuliskan “sudah dekat, anak itu akan DEATH, 3”
Aku membaca surat itu aku bingung kenapa pembunuh membunuh temanku tanpa sebab, di dalam diriku bertanya tanya apa motif pembunuhan ini.
Esok harinya Aisley dan keluarganya dimakamkan, setelah selesai dimakamkan orang-orang pergi meninggalkan pemakaman. Di pemakaman tinggal Aku, April, dan Carrie. Ketika kami sedang berdoa terlihat seorang pria dari kejauhan memakai pakaian serba hitam dengan sarung tangan hitam sedang berdiri melihat ke arah kami.
“Heyy… apa kalian melihat pria serba hitan di dekat pohon itu” tanyaku
“Aku tidak melihatnya” jawab April
“Dimana sih, apakah yang di dekat pohon itu?” Tanya Carrie
“Iya itu, oh tidak dia semakin mendekat, sebaiknya kita cepat pergi dari sini” ujar ku
“oh, pria yang berpakaian serba hitam itu?” Tanya April
“Iyaa…” jawabku
“DAMN! Dia semakin mendekat, ohh benda apa yang dia bawa?” Tanya Carrie
“Itu terlihat seperti kalung” jawabku
“Benar itu kalung” ujar April
“Sebaiknya kita pergi” ujarku
Aku langsung menggandeng tangan temanku dan mengajak mereka pergi ke mobil dan segera pergi meniggalkan tempat ini.
Tidak lama kemudian pria serba hitam itu meletakan kalung yang ia bawa serta dia mencoret batu nisan Aisley.
Kami tidak mengerti apa yang sedang dilakukanya.
Aku pun langsung menyalakan mobil dan pergi ke rumah, April dan Carrie aku ajak ke rumahku. Sesampainya di rumah aku langsung naik ke kamar dan mengambil buku itu untuk mencari tau.
“Carrie, April coba kalian lihat ini”. Ujarku
Carrie membaca “pada saat korban mati korban akan didatangi pria serba hitam yang membawa kalung dan pisau yang digunakan untuk mencoret batu nisan pada saat di pemakaman”.
Sontak hal ini membuat kami terkejut dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pemakaman Aisley apa benar hal ini terjadi.
Saat di perjalanan menuju pemakaman kami melihat pria serba hitam sedang duduk di depan toko roti sembari menulis di buku yang ia bawa.
Kami tidak mempedulikanya namun kami sangat penasaran apa yang dia tulis.
Tidak lama kemudian kami sampai di pemakaman Aisley. Benar-benar sulit dibayangkan buku tua itu benar, di makam Aisley terdapat kalung hitam serta bandulnya berbentuk tabung kecil berisi darah dan batu nisan yang dicoret. Kami segera membawa kalung itu dan bergegas menuju rumahku.
Saat mau menuju mobil tidak kusangka pria serba hitam muncul di hadapan kami bertiga. Sontak kami terkejut.
“Apa yang kau inginkan dari temanku?” Tanyaku
“…” pria itu tidak menjawab pertantaanku. Namun dia langsung memegang tangan Carrie dengan kencang sehingga tubuh Carrie lemas akhirnya Carrie pingsan. Aku tidak terima, “April ambil kalung ini dan bawalah pergi!”. Emosiku sudah meluap aku langsung menonjok muka pria itu dan menendang kakinya. Ada hal aneh kenapa pria ini tidak kesakikan? Aku mencoba menyerang kembali dengan pukulan serta tendangan ke tubuh pria itu. Saat itu April sedang lari menuju mobil untuk mengamankan kalung itu dan terlihat dari kejauhan ada pria berpakaian serba hitam sedang menuju arah April membawa pisau. Aku meneriakan April untuk lari dari situ namun April tidak mendengarku. Disitu aku terlihat bingung aku ingin menyelamatkan yang mana, aku melihat pria yang mengekap Carrie tidak membawa benda tajam atau alat lainya sedangkan pria yang menuju arah April membawa pisau. Seketika aku melihat Carrie terbangun, aku menarik tangan Carrie dan langsung meminta Carrie untuk berada di belalangku. Tidak lama kemudian aku memukul kepala pria yang aku lawan dengan batu dia akhirnya pingsan disini aku sangat terkejut karena ini adalah robot menyerupai manusia entah siapa yang membuatnya namun terlihat di sepatu robot ini tertulis nama Alveisyn G Lorence, aku pun sangat terkejut namun seketika Carrie lari menuju arah April dan memukul punggung pria serba hitam dengan kayu aku pun langsung mengejar disana kami melawan pria itu 3 lawan 1, pria tersebut kesakitan namun dia langsung bangkit dan dia menyiapkan pisaunya untuk menusuk Carrie, melihat itu aku langsung menghalangi pria tersebut menusuk Carrie, dengan memukul kepala pria dengan kayu, April di sampingku membantuku melawan pria tersebut.
Seketika pria tersebut tidak sadar kami langsung bergegas pergi namun kaki Carrie dipegang pria serba hitam itu Carrie pun ditusuk dan akhirnya Carrie meniggal. Tinggal kami berdua April segera mencari pertolongan dengan menelepon teman laki-lakinya yang rumahnya tidak jauh dari sini namun hp April mati kami sangat bingung. Pria tersebut tersenyum sinis dan dia langsung menusuk perutku, tubuhku menjadi lemas, pandanganku menjadi kabur, dan kepalaku sangat pusing sedikit demi sedikit darah mulai keluar, namun aku masih bisa bangun dan menyuruh April pergi, April tidak mau pergi ia berkata padaku “kau sahabatku, kau selalu menolongku, kali ini aku harus menolongmu”.
“Kau memang sahabatku, kau harus pergi dari sini, aku tidak mau melihat sahabatku mati di tangan pria ini Fu*k U” jawabku “tidak berpikir panjang april menusuk pria tersebut dengan pensil yang terjatuh dari kantong pria tersebut dan memukul kepalanya dengan batu, seketika pria tersebut terkapar dan akhirnya mati. Tidak lama kemudian aku terjatuh April langsung membawaku ke rumah sakit. “Kau harus hidup Cole, kau sahabat terbaiku, aku sangat berterimakasih padamu, jangan tinggalkan aku” ujar April sambil menangis dan menunggu Cole sadar, orangtua Cole datang dengan wajah cemas dan sedih, dokter ke luar dari ruang Cole “maaf… dia sudah tiada” “Cole…”.
Di pemakaman terlihat pria berbaju hitam dengan membawa buku. April menghampiri pria tersebut dan April pun dibunuh dan tidak diketahui dengan apa April dibunuh.
Hembusan angin datang dengan kencang halaman buku satu peesatu terbuka masing-masing halaman memiliki cerita yang berbeda.
Pembunuhan Cole dan teman-temanya terdapat di halaman terakhir. Di buku ini disebutkan siapa pembunuhnya. Nama Alveisyn G Lorence terdapat di buku ini dia adalah pembunuh dari Aisley dan April. Namun Nicole tidak dibunuh dengannya melainkan Nicole dibunuh oleh kakek Nicole yang sudah lama menghilang dari rumah akibat menggila, Caroline dibunuh oleh kakek Nicole karena ayah Caroline yang menyebabkan kakek Nicole menjadi gila. Tidak ada yang tau hal ini terjadi hanya buku yang diberikan kepada April yang menjadi sumber utama masalah ini. Dituliskan Archer Grutlys Jocelyn sebagai dalang dari semua pembunuhan ini semua, dituliskan Archer sudah membunuh 5 keluarga masing-masing memiliki anggota keluarga 4-8 orang. Salah satu di antaranya Cucu dari anaknya yaitu Nicole Jocelyn. Dan 1 korban cucu dari sahabatnya Caroline Danzell.
Setelah semua korban terbunuh sang pembunuh akhirnya membunuh dirinya sendiri dengan terjun dari jurang. Sebelum bunuh diri pembunuh membunuh ayah dan ibu Nicole, ayah dan ibu Caroline. Buku tersebut akhirnya menghilang hanya menyisakan 1 kertas kecil bertuliskan “immortal”.

wahana rumah hantu

Hari ini Paman akan menceritakan tentang seseorang yang tidak takut dengan hantu yang akhirnya bertemu dengan hantu.
“paman, ceritanya pasti seru kan?”
“tentu saja, keponakanku. Bahkan sangat menarik”
Ada seorang anak bernama Reno dari kecil ia tidak pernah takut dengan wahana rumah hantu. Bisa saja ia mengelilingi rumah hantu sampai sepuluh kali dalam sehari karena ia tahu hantu di wahana seperti itu palsu.
Dino. Satu-satunya teman yang takut dengan rumah hantu, saking takutnya ia bisa menangis histeris sampai terkecing-kencing.
Pernah karena iseng, teman-temanya mengerjai Dino habis-habisan sampai ia menangis dan parahnya Reno yang mengusulkan untuk mengerjai Dino dan mereka meninggalkan Dino sendirian di wahana yang sangat ditakutinya itu.
Sejak kejadian itu Dino berubah. Dino suka tertawa sendiri, melamun dan berbicara sendiri. Ya, ia jadi gila. Dino dimasukan ke rumah sakit jiwa oleh orangtuanya karena bertambah parah. Dan mereka sangat menyesal telah mengerjainya.
Besoknya terdengar berita bahwa ada salah satu pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Dan hari itu Reno pulang malam karena harus mengikuti pelajaran tambahan. “Ya ampun seharusnya aku belajar lebih rajin agar tidak perlu ikut pelajaran tambahan sampai larut malam begini memang sekolah menyebalkan” umpat Reno kepada angin yang berhembus. Tentu saja tidak ada yang mendengarkan.
Tap tap tap
Ada yang mengikutinya malam itu, “Siapa itu?” baru satu gerakan. tapi apa daya ia kalah cepat. Obat bius telah menguasai dirinya.
Saat Reno terbangun. Ia berada di sebuah kereta, kereta yang sempit. Ia sadar ini sebuah taman bermain dan tampaknya kereta ini baru memasuki area rumah hantu. Tempat yang gelap. Tangannya meraba seluruh badan dan matanya memperhatikan sekeliling. Mainan-mainan yang dicat dan dihias seram agar menakuti pengunjung menghiasi lorong panjang ini.
Kereta masih melaju. Suara-suara seram juga bergema seperti halnya rumah hantu biasa. Pengunjung lain di depan juga tampak memperhatikan dengan seksama.
“Waktu berlalu dan sudah 20 menit kereta ini melaju, seharusnya kita sudah keluar. Selama itu kah?” Gumamnya
“Pak” panggil Reno sambil menepuk pundak bapak itu.
“Pak, permisi. Saya ingin tahu kapan wahana rumah hantu ini akan berakhir?” Tapi bapak itu tidak menengok juga.
Ia tau ada yang tidak normal. Ia sudah merasakan hawa yang tidak enak. Tapi ia berusaha tetap tenang.
Selang beberapa waktu bapak itu menoleh ke belakang tapi buluk kuduknya seketika berdiri dan refleks tangannya mendekap mulut. Kepala bapak itu berputar 180 derajat Menatap Reno.
“wajahnya wa-w.. wajahnya sama dengan boneka-boneka di wahana ini, kepala berdarah juga mata yang bengkak. Bau busuk ini Membuatku ingin muntah.”
Kemudian ia berkata dengan senyum menyeringai “Baru dimulai anak muda”
Suara tawa yang menyesakan hati terdengar dari barisan belakang sampai depan. Kepala mereka semua berputar menatap tajam pada Reno.
Mereka semua bukan manusia.
Ia tidak percaya, tidak. Tidak. pasti mereka hanya manusia. Pasti ini hanya mimpi. Ia mencoba menepuk pipinya sendiri.
“auww, sakit”
Iya tau ini bukan mimpi.
Tubuhnya membeku rasanya ia tak sanggup menggerakan kaki atau tangannya. Lidahnya kelu yang bisa ia lakukan hanya merenggut di bangku kereta. Tiba-tiba laju kereta bertambah cepat dan cepat bahkan sangat cepat tapi tak ada yang berteriak selain Reno. Ia memengang erat kereta karena keretanya melaju cepat vertikal ke bawah.
“Aaaaa”
Gubrakk
Kereta jatuh. Mayat-mayat di kereta Berjatuhan dan terlempar ke segala arah. Tidak terkecuali Reno. Ia terlempar jauh, dan jatuh di antara boneka-boneka hantu.
Dingin rasanya dingin ada yang menyentuhnya. Perlahan-lahan Reno mencoba membuka mata.
“ta-t..takut kah k-kamu pa.. da ka mi?”
Matanya tak bisa berkedip karena mayat berwajah putih pucat dan mata merah sekarang sedang mengacungkan pisaunya di depan matanya
“Bon-ne ka nya h-hi hidup, to t-to long jangan bunuh aku” mohon ia kepada hantu tersebut kemudian cahaya menghilang.
Ia pingsan.
Kalimat terakhir yang menyedihkan.
1 bulan kemudian.
“Boneka hantu, boneka, boneka pergi jangan ke sini, aku takut. gelap, aku takut mereka. Tolong aku. Aku ingin pulang”
“kasihan sekali dia, padahal masih muda sudah seperti itu” sambil menatap prihatin ke ruang VIP seorang remaja laki-laki.
“benar, kasihan sekali.” Sahut suster jaga yang kebetulan lewat.
Reno selamat, tapi ia menjadi tak waras dan dimasukan ke rumah sakit jiwa.
“paman ceritanya sangat seram. lalu, paman. Bagaimana dengan Dino? ”
“Dino sangat puas dan senang dendamnya terbalaskan. ia sudah sembuh dari phobianya kemudian ia merantau ke tempat lain, hidup bahagia dan punya keluarga besar”.
The end

bibi

Malam yang dingin. Seperti biasanya aku menunggu papa dan mama pulang sambil menonton tv di ruang tengah. Dinginnya malam membuat tubuhku menggiggil, serasa berada di dalam kulkas. Kulirik jam di dinding saat bibi menyuruhku tidur, tapi aku belum mengantuk sama sekali akhirnya bibi pergi tidur terlebih dahulu meninggalkanku sendirian.
Saat mataku terfokus ke tv, tiba-tiba aku mendengar suara mobil berhenti di halaman depan rumahku.
“Itu pasti mereka.” gumamku sambil berjalan menuju pintu, tapi tunggu dulu, papa pasti akan membunyikan klakson saat tiba di depan rumah. Aku berhenti berjalan dan menunggu klakson berbunyi, lama rasanya aku menunggu tetapi yang terdengar hanya suara tv yang masih menyala.
‘tok tok tok’
Aku terkejut mendengar ketukan yang membuat jantungku serasa ingin copot
“Papa dan mama selalu mengucapkan salam bila mereka mengetuk pintu.” ucapku dalam hati
‘tok tok tok’ ketukan di pintu kembali terdengar tetapi aku tak berani membuka pintu, sebab aku teringat pesan mama
“Jangan sekali kali membuka pintu jika orang yang mengetuk pintu tidak mengucapkan salam”
‘tok tok tok’ ketukan kembali terdengar tetapi kali ini ketukan itu agak keras.
Sudah tak terdengar ketukan lagi. Kuputuskan untuk mengintip lewat jendela, saat aku mengintip betapa terkejutnya aku, rupanya tidak ada orang di depan pintu. Aku kembali terkejut saat melihat ke halaman depan rumah yang kosong.
“Bukannya tadi ada suara mobil yang berhenti?” cepat-cepat aku kembali duduk sambil mendekap boneka. Tanpa terasa keringat berjatuhan dari pelipisku. Dudukku tidak tenang, berkali kali aku mengganti saluran tv mencari tontonan yang menarik, sekedar menenangkan perasaanku yang semakin tak karuan.
“Duhh, kenapa papa dan mama belum pulang? Sekarang sudah pukul 11.53, tidak biasanya mereka kerja hingga tengah malam begini.” aku mengeluh sendirian
“Amy!” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang yang membuatku terkejut bukan main, nafasku seketika memburu
“Aduhh bibi, bikin kaget aja untung jantungku nggak copot” kataku setelah melihat siapa yang menepuk pundakku
“Kamu kenapa? Kok muka kamu pucat.” tanya bibi sambil duduk di sampingku
“Ngg… nggak kok” jawabku singkat, sebenarnya aku ingin cerita dengan bibi tapi aku mengurungkan niat sebab aku melihat sorotan matanya yang agak aneh.
“Bi, aku ke toilet dulu yah” ucapku memecah keheningan
“Aneh, sejak bibi duduk di sampingku kok perasaanku semakin nggak enak” gumamku pelan sambil berjalan menuju toilet.
Saat lewat di depan kamar bibi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan dari dalam keluarlah bibi yang sedang menguap, membuat mataku terbelalak, jantungku berdetak dengan cepat. Aku ingin berteriak tapi sosok bibi yang di hadapanku bertanya
“Loh, Amy. Kok ada disini, kenapa belum tidur?”
“Bu.. bu.. bukannya bibi tadi ma.. masih ada di depan tv?” tanyaku terbata bata
“Kata siapa? Bibi dari tadi tidur kok” jawaban bibi membuatku bergetar seketika.
“Lalu yang tadi ada di sampingku itu siapa?” perlahan aku menengok ke depan untuk memastikan sosok yang tadi menemaniku masih ada, tapi yang aku lihat hanyalah sofa yang sudah kosong. Kepalaku seketika sakit, pandanganku kabur dan semakin kabur lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.
SELESAI

mimpi menjadi nyata

Malam itu, terlihat seorang wanita sedang menonton televisi. Namanya Ryani. Setoples cemilan selalu setia menemaninya. Ia di rumah seorang diri, kedua orangtuanya telah pergi ke luar kota sejak tadi pagi. Matanya masih saja berkonsentrasi memandangi layar televisi itu. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang menggedor-gedor pintu rumahnya. Ryani berjalan sambil bergumam, “Siapa yang menggedor pintu malam-malam?”. Dibukanya pintu itu, tak ada orang. Kakinya melangkah ke luar rumah, guna memastikan sekali lagi penglihatannya itu benar atau salah. Dan rupanya benar, tidak ada orang sama sekali.
Kembali ia masuk dan menutup pintu. Belum sempat ia beranjak dari tempatnya menutup pintu, didapati televisinya telah mati. Entah siapa yang mematikan. Padahal, ia masih ingat benar bahwa televisi masih menyala ketika ia ke luar rumah. Ia berjalan mendekati televisi itu. Ia baru mengingat sesuatu. Mimpinya semalam sama persis seperti apa yang dialaminya saat ini. Ryani menebak, sebentar lagi listrik akan padam. Dan dalam sekejap, hal itu benar terjadi. Tangan Ryani mulai merogoh sakunya, mengambil handphone untuk alat penerang. Ia berjalan menuju dapur, mencari sebuah lilin. Masih sibuk tangannya mengobrak-abrik beberapa tempat di dapur, namun lilin tak kunjung ditemukan. Lagi-lagi terdengar suara sesuatu, seperti benda yang diseret. Kali ini, Ryani benar-benar tak menginginkan mimpinya menjadi nyata. Suara itu masih terus terdengar. Meskipun seluruh bulu kuduk berdiri, Ryani memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, arah suara itu berasal. Ryani berlari ke luar dan menjerit ketakutan, tatkala melihat seorang kakek menyeret sebuah cangkul. Anehnya, kakek itu terus mengikuti kemanapun Ryani pergi.
Ryani masih berlari sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah kakek itu masih mengikutinya. Tiba-tiba, Ryani terjatuh. Ia tersandung akar sebuah pohon di depan rumahnya. Sementara itu, sang kakek semakin mendekati Ryani, sambil seolah-olah akan mencangkul Ryani. Ryani menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Matanya terpejam, tak kuat melihat kakek itu. Tiba-tiba…
“Surprise!!!” kata-kata itu terdengar begitu jelas di telinga Ryani. Ia memberanikan diri membuka matanya, terdapat sekerumpulan orang di hadapannya, termasuk kedua orangtuanya. Banyak dari mereka yang membawakan kado. Ibunya tersenyum sambil membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka 20 yang menyala. Rupanya, ini adalah ide sahabat-sahabatnya. Dan kakek itu adalah kakek dari salah seorang sahabatnya. Raut wajah Ryani yang semula tampak ketakutan, kini mulai tersenyum begitu manis.

mimpi itu

“Aaaaaaaaaa…” ini untuk kesekian kalinya aku bermimpi, entahlah sudah berapa kali mimpi yang sama terus menerorku.
Aku sendiri bingung apa arti dari mimpi ini yang terasa seperti kenyataan. Tapi biarlah, aku nggak harus memikirkan hal tersebut dan bersiap-siap ke sekolah.
“Masyaaaaaa!” suara yang sudah kukenal, siapa lagi kalau buka Aisyah yang setiap paginya selalu menjemputku. “yaa, aku di kamar. Sebentar lagi turun”
Tak berapa lama kemudian aku pun menyusul Aisyah dan segera berpamitan.
“syah, kyaknya hari ini aku belum mau ke sekolah” ujarku ketika berada di depan bangunan tua tersebut. “hmmmm, kenapa? Atau kau sudah bertekad untuk menyelidiki mimpi itu?” ucap Aisyah yang memang mengetahui rencanaku. Aku hanya mengangguk dan segera memasuki bangunan tua meninggalkan Aisyah sendiri.
Setelah kubuka pintu utama bangunan tersebut, terasa hawa dingin menusuk tubuh ini. Ketika baru beberapa langkah, terasa ada yang memegang bahuku.
“heyy kau tidak perlu takut, aku yang memegang bahumu, Aisyah. Balikkan badanmu itu” saat kubalikkan ternyata betul itu Aisyah, kayaknya Aisyah ingin menemaniku dan kubiarkan hal tersebut.
Tak terasa hari semakin gelap, tapi sampai saat ini kami belum menemukan sesuatu yang aneh. Aku pun mengajak Aisyah untuk pulang. Namun, tiba tiba pintu utama itu tertutup dengan sendirinya, aku tersentak kaget apalagi Aisyah tidak berada di sampingku.
“Aisyaaaaaah, kau di mana”
Tapi bukannya aku menemukan jawaban Aisyah, yang kudapat hanya suara perempuan yang menyanyi dari arah belakang. Aku mencari asal suara itu dan saat ketemukan ternyata di belakang bangunan ini begitu banyak mayat yang berserakan dengan darah yang berceceran. Aku hampir berteriak, untungnya aku bisa menahan diri. Ketika kubalikkan badan tak sengaja aku berhadapan dengan seorang perempuan yang sangat menyeramkan dengan bola mata yang hampir keluar, serta muka yang sangat hancur. “Aaaaaaaaaa” aku segera lari menghindari wanita itu dan segera menuju pintu utama yang telah terbuka.
Saat aku berhasil ke luar dari bangunan itu, aku lupa kalau Aisyah masih berada di dalam. Aku pun kembali ke bangunan tua itu, tapi pintu tersebut tidak bisa dibuka, semua pintu sudah kucoba bahkan jendela pun tetap tidak bisa dibuka.
“masyaaaa, toloooong akuu” suara memelas yang ku dengar dari dalam bangunan, dan sepertinya itu Aisyah. Aku menyerah tidak bisa berbuat apa-apa tapi.. Sebenarnya di mana keberadaan Aisyah? Apa yang terjadi?
Mimpi itu, ya mimpi itu menjadi kenyataan. Ternyata mimpi ini sebagai peringatan, harusnya aku tak boleh pergi ke sini. Aku telah menyebabkan Aisyah hilang entah ke mana. Dan sebenarnya apa misteri bangunan ini? Entahlah…

pemuda pengkayal

Di satu rumah, tepatnya di dalam kamar. Ada 2 orang pemuda dengan asyiknya bermain game 3D. Sebenarnya di dalam kamar ini ada 3 orang, satu lagi pemuda itu tidur dengan nyenyaknya. “yok.. ciaat… ehh bay. Lu jangan lambat kali jalannya. Lari.. lari.. nah pencet ini lo kalau mau lari” ini suara laki-laki bertubuh cungkiring. Gerald namanya. Orangnya belagu banget. “gue tahu, rald. Stiknya rusak ni” ucap bayu. Pemuda yang memiliki tinggi 170 cm ini asyik mengotak-atik stiknya. “eit… eitt.. mati kaau! Mati! Huh mampos!” gontok gerald sambil menekan keras tombol sticknya.
“woy rusak kalee stick gue lo penceti gitu!” gontok bayu sembari menopak gerald. Gerald tercengir-cengir. “lanjut!” dersis gerald. Level yang hampir mendapati kemenangan ini membuat 2 pemuda itu ricuh seketika. “eh apa itu rald!… rald… rald.. cepetan dodol! Rald..!!”
“sabar peak! Gue lagi usaha ini… lihat tu keringet gue”
“cepetan.. rald.. mampos lah kita bahkalan mati ini!”
“woy diamla lontong!” teriak pemuda yang lagi tidur. Dia bernama dimas. Asli.. dimas ini orangnya paling palak jika tidurnya harus diganggu. siapapun orang yang berani menganggu tidurnya dia Bisa jadi makanan pencuci mulutnya. Tuh serem kan! (ecek-eceknya) “kanibal uda keganggu tu” bisik bayu. Spontan 2 pemuda itu mengecilkan suaranya. Seperti tikus deh jadinya.
Drrt… drrt… cez… ziz.. cezz.. zizz.. itu suara telepon genggam milik bayu. “brisik banget sih!” ucap dimas dan bayu kompakkan. “telepon lu yang bunyi, kampret!” ujar gerald. Bayu tercengir. Langsung pemuda itu mengangkat teleponnya. “halo… siapa ini?… ehh maaf-maaf sayang. Bukannya aku ngehapus kontak kamu, tapi aku nggak lihat tadi… ehh jangan gitu dong, yang. Maaf-maaf ya cantik… iya… Hah sekarang? aduh nggak bisa yang… gimana kalau 2 jam lagi?… iya sayang… janji… iya… bye…” begitulah kata bayu menjawab telepon dari pacarnya. Mila namanya.
“lanjut, brooo!” teriak mantap bayu. “bising lo bedua!” dimas melemparkan bantal ke arah bayu dan gerald. Dimas beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke luar kamar.
2 jam berlalu sudah.. bayu harus menepati janjinya untuk memani mila ke toko buku. Sepasang remaja ini atusias memilih buku-buku yang mereka beli. “kamu tadi main game lagi ya?” ucap mila ke bayu. Bayu menggelengkan kepalanya. “kamu berani bohong ya bay! Dosa tau!”
“siapa yang bohong? Tanya aja sama gerald! Pasti aku beneran bohong.. ehhh” bayu membungkam mulutnya. “dasar!” mila pergi begitu saja meninggalkan bayu. “mil… disini motornya” teriak bayu memanggil mila. Saat menyeberang pasar, entah alasan apa membuat gadis bertubuh ideal ini tidak melihat ke kiri ataupun ke kanan. “milaaaaaa!!!” teriak bayu seketika melihat kekasih hatinya terhempas ditabrak mobil. Jantung bayu berdetak lebih kencang. “mill…”. nafas bayu terhenga-henga, ia menjadi orang yang sangat takut jika melihat darah bercucuran. Apalagi darah itu masih tampak hangat dan kental. Bayu tak berkutik sedikit pun. “panggil polisi.. panggil polisi..” teriak beberapa warga yang melihat kejadian tragis itu.
Polisi itu datang dan membawa jasad mila. Bayu menjerit sekuat tenaganya. dia tak menyangka akan jadi seperti ini. Ternyata kebohongannya kali ini berdampak tragis yang menimpa dirinya. Bayu harus kehilangan gadis kedua yang ia cintai setelah mamanya.
Jasad mila setelah diautopsi, dimakamkan di pemakaman umum Tangerang. Bayu menenangkan dirinya sejenak. dia pandangi terus pemakaman yang masih subur itu. Bayu meletakkan taburan mawar merah dan 15 tangkai mawar merah sebagai tanda penyesalan. Bayu juga meletakkan sebungkus coklat. Karena dia tahu, gadis yang dicintainya sangat suka dengan mawar merah dan makanan berbau coklat. Apapuun itu!
Malam itu begitu ngeri bagi bayu. Terlebih saat ia mengingat kejadian yang menimpa mila. tokk tokk suara pintu bayu terdengar jelas. “siapa?” ujarnya. “milllaaaa…” jawab seseorang dari luar. “jangan becanda, dim!” bayu menanggapinya dengan santai. Ini pasti kerjaan 2 sahabat jailnya untuk menakut-takuti bayu. tokkk tokkk suara itu terdengar lagi. karena sudah naik pitam, bayu langsung membuka pintu kamarnya. “Allahuakbar!” teriak bayu setelah melihat 2 orang mengenakan baju putih dan ditaburi sedikit cat warna merah. “sempat-sempatnya ya lo bedua itu ngerjai gue! Lo kira lucu?! Hah?!” bentak bayu sembari menutup kembali pintu kamarnya. gerald dan dimas langsung tertawa terbahak-bahak. “sorry bay! Kita Cuma nggak mau lo larut dalam sedih kok” ujar dimas. “basi!” kata bayu singkat.
Bayu memandangi photo gadis itu di telepon gengamnya. “mil.. mil.. kenapa kamu perginya dengan tragis gitu.. ngeri tau, mil” dersis bayu. Sssrrt… sssrt… sssrrt… suara gesekan kayu terdengar dari luar kamar. “woy gue tamplok lo bedua ya! Ngganggu aja!” bayu berteriak setengah membentak. Namun tak ada jawaban dari orang yang dia maksud. Sssrrt… sssrt… suara itu muncul lagi. “bener.. bener ni orang!” bayu mengambil bantal dan gulingnya untuk bersedia memukuli 2 sahabatnya.
“dimana lo bedua.. woyy!!!” bayu mencari-cari keberadaan gerald dan dimas. Hasilnya, notihng! Satu pemuda cukring dan satu pemuda tampan tidak tampak di rumah itu. Padahal baru saja mereka menjalani aksinya pada bayu. “nggak lucu!” dersis bayu sembari membalikkan badannya dan berjalan menuju kamarnya. “Astaghfirullahalazim!” bayu terkejut bukan kepalang. Mengapa tidak? Tiba-tiba ada satu cairan berwarna merah yang diduga itu adalah darah berada di depan pintu kamar bayu. “niat banget sih tu orang ngerjain gue?!” bayu tetap harus tenang menanggapi hal itu.
Bayu ke luar dari rumah. Ada ngeri-ngeri sedap juga bila harus ditinggal sendirian di rumah itu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. “gerald sama dimas kemana sih?!” gontok bayu sembari duduk di bangku tepat di bawah pohon mangga. “lalalala.. hing… hing…” bayu mendengar suara kecil wanita dari pohon itu. Bayu tak menggubrinya. Kali ini bayu memakai headset agar tidak mendengar hal-hal yang menurutnya hanya halusinasi pikirannya saja. hooos kali ini seperti ada yang menghembus di leher bayu. Bayu mulai meraba lehernya, “mila…” terbesit di dalam pikirannya tentang mila. Bayu menarik nafas panjang-panjang “halusinasi…” dersisnya pura-pura terlihat tenang, padahal aslinya hampir mati ketakutan dia!
“yee.. are you love me.. ye…” bayu sedikit menghibur dirinya dengan bernyanyi. syeekkhh… syeeekkhh bayu tak menggubris. Kali ini ia harus mengeraskan suaranya. “yee… yee… laa.. laa..” teriak bayu. (buruk banget sih suaranya!)
Tleng.. tlengg tiba-tiba kaleng terlempar tepat di depannya. Bayu menoleh ke belakang “siapa ituu?” bentak bayu. Badannya mulai gemetar tak karuan. Cucuran keringat dinginnya mulai membasahi baju kaaosnya. Bayu menyerah, ia harus pulang saat ini juga. lebih ekstrem lagi jika ia berlama-lama di luar rumah.
Tapppp taap tap ada tapakan halus dari belakang bayu. Bayu menoleh. Tidak ada siapa-siapa disana. Bayu melanjuti perjalanannya pulang ke rumah. Rumah warga yang sudah terlelap itu membuat jalanan mulai gelap tanpa cahaya, meskipun di setiap jalan ada lampu penerang jalan tapi lampu itu tidak membawa pengaruh baik bagi bayu. Ditambah lagi suara burung malam yang melintas terbang di atas kepalanya menambah suasana malam ini mengerikan. Fuuiit… fuiitt… fuiitt bayu bersiul. syyreekkh.. syreekkhh.. ini suara seretan orang berjalan. Bayu menoleh! Lagi-lagi tidak ada.
“lariiii…!” teriak bayu sembari berlari sekencang-kencangnya. Tak diduga ia kesandung batu padas yang lama tertimbun tanah. Bayu tersungkur seketika. “haaaiiikkk…” bayu menjerit setelah melihat bayangan satu kepala manusia berada di depannya. Saat itu juga bayu pingsan tak sadarkan diri.
“dimana gue?” ucap bayu ketika ia menyadari posisinya berada di tempat paling aneh baginya. Tanpa rumah, tanpa pohon, tanpa apa pun! Hanya putih tok! “haii!!” ucap seorang gadis. Suaranya merdu sekalee.. “haii..” balas bayu. Tapi sayangnya gadis itu membalikkan posisi badannya, jadi bayu tidak tahu siapa gadis yang sedang menyapanya itu barusan.
“ikut aku yuk” ajak gadis itu. Bayu mengangguk. Ia mengikuti kemana arah gadis itu berjalan. Terus.. terus.. terus berjalan sampai akhirnya bayu berhenti di pemakaman mila. “kok gue bisa ada disini?” dersisnya. “ini rumah aku” ucap gadis itu. “kamu mila?” bayu memberanikan diri untuk bertanya. Gadis itu menggelengkan kepalanya. dan menoleh ke bayu.
“Aaaaaaaaaaaaaa…” teriak bayu saat itu juga.
“woy bay uda sadar lo?” ucap dimas. Bayu kebingungan tak karuan. “gue dimana?”
“lo uda di dunia nyata kaleee!” ledek gerald sembari melahap satu sendok nasi. “lo nggak bilang ‘kalian siapa?’ ‘kok aku ada disini?’ biar kayak sinetron-sinetron gitu” nimbrung dimas. Bayu menarik nafas panjang. Ternyata hanya mimpi. Tapi kenapa kejadian itu seperti nyata. “lo itu memang udah bosan tinggal di rumah atau gimana sih, bay? Masa lo tiduran di depan rumah orang! Mau melucu lo ya?”
“diem lu kampret! Gue di mimpi mila. Asli mukanya serem banget”
“uda.. uda.. nanti telat kita. Cepetan lo mau sekolah atau nggak bay?” kata dimas menstabilkan suasana bayu. “sekolah” jawab bayu singkat. Akhirnya bayu harus melupakan kejadian yang menimpa dirinya. Halusinasi? Yah! Bayu berfikir itu hanya ketakutan dirinya saja, bukan semata-mata itu terjadi. Tapi entahlah!
Sesampainya di sekolahan, bayu melihat sosok perempuan cantik, manis dan terlihat kalem di taman sekolahannya. “Itu bukan mila!” dersis bayu. Gadis itu menoleh ke bayu. Ia tersenyum manis. “ciiee.. mulai moven on ni?” ledek gerald. “arrggh… diem lo, cungkring kepencet!” bayu mengacak-acak wajah gerald. Dimas dan bayu tertawa lepas dan meninggalkan gerald yang sedang merapikan wajah.. eh salah merapikan bajunya. Berhubung guru piket berdiri membawa penggaris panjang dan tebal yang siap melibas murid murid sombronya.
selesai

gadis pemimpi

Di jalan suaka indah terdapat beberapa rumah yang sudah tak berpenghuni. Alhasil tempat ini dimanfatkan satu kelurahan warga asing alias HANTU! Salah satu rumah mewah nan megah, ada satu keluarga yang tinggal disana. Malam hari perumahan bagi manusia perumahan ini begitu mengerikan terlebih saat mereka mendengar suara-suara aneh ketika melintas di rumah yang tak berpenghuni itu.
“huahaha.. hahaha… hey sil, gue uda berhasil nakut-nakuti manusia. Mukanya itu loh, sil. Astaga… sumpah. Lo tahu kan mr. Bean? Nah.. lebih susah dari mr bean mukanya. Haha.. kocak banget kan?” ucap gadis berambut panjang mengkilap itu. Namanya mila. Dia jadi hantu karena kecelakaan yang menimpanya kemarin. Sadar sepupunya tidak menanggapi ceritanya, mila kembali mengejutkan lamunan silvi, gadis berambut pendek ikal. “silviiiii” lengkingan suara mila membuat silvi tersontak tak karuan. “kan gue uda bilang, mil. Lo itu nggak ada gunanya ngeganggu manusia. Ini dunia bukan milik lo. Mereka berhak juga hidup di dunia!” omel silvi.
Satu-satunya hantu yang tidak pernah menganggu manusia hanya silvi. Gadis itu begitu kasihan bila melihat manusia menunjukkan ekspresi ketakutannya. “sampai kapan sih lo kayak gini, sil. Lo itu harus jadi hantu sejati dong. Tunjukin tu kemampuan lo..” mila menepuk-tepuk pundak silvi. “ogah!” silvi terbang meninggalkan mila yang sedang duduk di atas pohon mangga.
“silvi…” teriak mila mengiikuti ke arah mana sepupunya akan pergi. Silvi diam tak bergerak sedikit pun saat ia melihat pemuda sedang antengnya duduk di luar rumah ditemani dengan gitarnya. “kok berhenti?” kata mila sembari menoleh ke silvi. Silvi menatap haru laki-laki itu. Bibirnya tersungging menyaksikan pemuda berwajah polos itu memainkan gitarnya. “bayu?” itu kata yang terlontar di bibir mila. Silvi langsung menoleh ke mila. “lo kenal mil?”
“hah?! Apa?! Nggak.. bukan.. gue itu.. ituloh… gue ngasal jeplak aja. Huahaha” ucap mila terbatah-batah. “gue kerjai ah”
“eii.. jaa..” belum selesai bicara, mila sudah pergi untuk menganggu pemuda itu. Tampak mila lihai membuat sesuatu ke pemuda itu. Jadi deh dia kocar-kacir minta tolong.
“huaa.. huaa.. huaaa.. gila. Tadi gue denger suara nyanyian cewek tapi nggak ada orangnya, terus tadi gue liat kayu terbang terbang, kita harus pindah dari sini!” ucap pemuda itu pada 2 sahabatnya.
“lo yang gila, bay! Mana mungkin ada kayu terbang terbang. Demam lo ya?” ucap pemuda bertubuh cungkring. “ahh uda-uda, lo kalau takut bay. Nggak usah di luar-luar. Gue tahu kok sebenarnya lo masih takutkan karena ngebayangi mila?” ucap pemuda berwajah tampan. “arrgghh.. tahu ahh!” pemuda itu menyerah. Dia memilih diam daripada dikeroyok 2 sahabatnya.
“gile bener… untung aja dia nggak pingsan, mil” ucap silvi merasa khawatir. “haha.. mila dilawan!” mila mendangakkan kepalanya. “maafin aku, bayu” dersis mila dalam hati. “udah ah pulang yuk, entar lagi terbit fajar ni”
“apaan terbit fajar. Lama lagi kaleee”
“ya udah, gue mau pulang aja. Mau bobok coanteks!” silvi lagi-lagi meninggalkan mila.
Di kamarnya, dia terbayang dengan pemuda itu. “gue mau kesana aja deh! Tanpa mila! Nanti tu anak bisa ngerusuhi lagi!” dersis silvi dalam hati. Gadis itu langsung diam-diam ke luar rumah untuk kembali ke rumah pemuda itu. Bukan untuk menakut-takuti tapi mendengarkan lagu yang dia nyanyikan. Siapa tahu pemuda itu masih memainkan gitarnya, asyiikk.. bisa nonton konser gratis dong!
Benar ternyata, pemuda itu masih memainkan gitar di kamarnya. Silvi numpang duduk di atas meja belajar pemuda itu. “nana…nana.. nana” tanpa disadari silvi ikut bernyanyi bersamanya. Spontan pemuda itu diam memastikan suara itu bukan suara gitarnya. “mampos! Pasti dia ketakutan.. aaduh mulut! Mulut! Kenapa keceplosan sih!” desis silvi dalam hati sembari menampar-tampar bibirnya. Setelah berapa detik terdiam. Pemuda itu kembali bernyanyi dan memainkan gitarnya. ttiiinngg! tanpa sengaja silvi menjatuhkan benda kaca milik pemuda itu. Silvi dan pemuda itu sama-sama terdiam. mereka saling menatap benda yang jatuh itu. “lari nggak.. lari.. nggak.. lari nggakk..” dersis silvi panik menanggapi hal ini. “gue harus berubah wujud!” silvi mulai mengeluarkan kelebihannya dengan memperlihatkan dirinya pada manusia. Tapi hanya satu orang yang dikehendakinya. cling! tiba-tiba silvi mulai terlihat di hadapan pemuda itu. Mereka saling menatap. Bingung dengan reaksi mereka. Bukannya takut, tapi justru mati kutu! Bengong! Cengang! Mau nangis mau jerit pun tidak bisa dilakukan keduanya. Sampai akhirnya… “Aaaaaaaa” keduanya sama-sama menjerit. Lalu diam sejenak. Lalu “Aaaaaaaa” menjerit lagi. diam lagi, dan “bay kenapa lo bay?” dua sahabat pemuda itu mendobrak habis pintu kamar pemuda itu. “lo mimpi ya?” ucap pemuda cungkring sembari mengecek dahi sahabatnya. “dia ngapain disini?” pemuda itu menunjuk arah silvi. Silvi tercengir. Ada rasa takut dalam dirinya. “bay lo sakit bay. Demam lo bay.. rald, telepon nyokapnya” ucap pemuda berwajah tampan. “apaan sih! Gue nunjuk perempuan ini! Dia ngapain nyelonong masuk kamar gue”
Kedua sahabatnya menoleh arah telunjuk pemuda itu. “lo sakit bay. Gak ada siapa-siapa.. Cuma elo sendirian disini”
“dimas… gerald.. gue itu nggak sakit. Gue nggak halusinasi, beneran ni perempuan lagi tercengir duduk di meja belajar gue!”
Kedua sahabatnya yang bernama dimas dan gerald itu saling menatap. “kalau lo nggak percaya. Nii.. nii.. nii.. nggak ada kan” ucap dimas sembari meraba meja belajar pemuda itu. Spontan pemuda itu tergeletak pingsan di atas tempat tidurnya. “bayuu..” ucap serentak gerald dan dimas.
“astaga.. dia pingsan..” dersis silvi dalam hati. Silvi menarik napas panjang. Terpaksa silvi harus meninggalkan rumah itu. Padahal dia masih ingin mendengarkan suara gitar, itu memang hobinya sejak dulu. Silvi berjalan tanpa menginjak tanah. Wajahnya yang ceria terlihat lesu malam ini.
“woy.. bengong aja lo!” ucap mila mengejutkan lamunan silvi. “kayaknya gue suka deh liat laki-laki yang main gitar itu, mil”
“hah?!”
“hahh… engh.. bukan… bukan.. maksud gue. Gue suka sama cowok yang suka main gitar. Bukan dia..” silvi tercengir. Mila menaggapinya dengan santai. “ciee… ciee.. bilang aja lo suka!” mila menyenggolkan sikunya ke siku silvi. Silvi tersenyum-senyum sendiri. “lo nggak lagi sakit kan, sil? Dia itu manusia loh, sama artinya lo suka sama musuh lo sendiri..” kata mila membuat perasaan silvi tak menentu. Apa salahnya jika jatuh cinta dengan manusia? Toh dia juga sama-sama ciptaan Tuhan! “uda deh.. lo nggak usah mimpi terlalu tinggi. Kalau nggak kesampaian bahkalan sakit tau, sil”
“gue nggak mimpi kok. Gue bukan jatuh cinta sama dia. Gue Cuma kagum, mil” silvi mulai berontak. “iya.. iya kagum. Gue ngerti.. boleh-boleh aja. Tapi jangan sampai perasaan lo ini sampai kedengeran opa, oma ataupun bokap nyokap lo. Kalau mereka tahu… hm.. hm.. habis lo!” mila melagakkan wajah seramnya. Masih saja gadis berambut panjang itu tidak terlihat seram, melainkan menggemaskan dan lucu! Kayak kamu.. iya… kamu..
Malam hari ini untuk kehidupan manusia normal adalah siang hari. Beda dengan kehidupan dunia lain. Silvi membututi setiap langkah pemuda yang diduga bernama bayu itu. “hah kalung?! Astaga itu kalung gue.. kenapa ada sama dia..” ucap silvi setelah melihat kalung dengan mainan gitar antik nempel di leher bayu. “kalungnya pasti ketinggalan tadi siang (malam bagi manusia)” dersis silvi dalam hati. Terus saja ia mengikuti bayu sampai bayu berada sendirian di tempatnya.
Di gudang sekolah, ternyata bayu sedang sendirian disana. Silvi mengambil kesempatan untuk menampakkan wujudnya. Keduanya sama-sama diam setelah mereka beradu pandang. “kok gue deg-degan” ucap mereka bersamaan di dalam hati. “looo..” ucap mereka bersamaan.
“lo?!” lagi-lagi mereka serentak berbicara. Silvi menarik nafas panjang. “lo kok bisa ada disini sih? Sebenarnya lo itu siapa?!” bentak bayu. Bentakkan itu membuat reaksi silvi menjadi kiut. Bahkan wajahnya mulai terlihat sendu. “itu kalung gue..” ucap silvi pelan. Bayu melihat arah tunjukkan tangannya. “ini..” ucap bayu. Silvi mengangguk. “nggak! Gue dapet kok di meja belajar gue. Ya ini punya gue!”
“ehh lo. Lo nggak sadar ya, semalam gue juga ada di kamar lo. Itu artinya kalung itu milik gue! Enak-enak aja bibir lo cakap itu punya lo! Huu..” gontok silvi. Bayu terdiam. saat pantulan sinar matahari menembus kaca jendela gudang, sponitas kulit silvi serasa terbakar dan mengeluarkan bau hangus. “lo ini sebanarnya apa sih? Alien kah? Vampir kah? Kuntilanak kah? Dracula kah? Kok lo bisa hangus gitu kebakar?”
“kembalikan cepat kalung itu. Gue bisa mati kalau kena cahaya! please..” suara silvi mulai terdengar serak. Bayu mendengar suara gadis itu langsung luluh. Bayu langsung melepaskan kalungnya dan memberikannya pada silvi. Setelah menerima kalung itu, silvi langsung pergi dari sana. “lo bukan manusia ya? Lo hantu kan?” ucap bayu sebelum silvi pergi jauh meninggalkan gudang. “maaf kalau tadi siang.. um.. maksudnya kalau tadi malam gue uda nganggu lo!”
“pergi.. pergii.. pergii sana.. jangan pernah gangu hidup gue. Dunia kita itu beda! Hust.. hust..” bayu mengusir kasar silvi. Padahal bukan maksudnya silvi menganggu kenyamanan bayu. Hanya saja ia tidak sengaja. Ingat tidak sengaja! Dengan perasaan sedih, silvi pergi meinggalkan tempat itu Walaupun sebenarnya ia tetap ingin menatap wajah polos pemuda itu.
Sesampainya di permukiman para hantu,
Ketika semua hantu terlelap tidur. Terlihat hanya satu gadis hantu yang masih melotot manangis mengingat kejadian tadi. Begitu bencinya manusia terhadap makhluk lain. Begitupun dengan kehidupan para hantu yang membenci kehidupan manusia!
“.. pergii.. pergii sana.. jangan pernah gangu hidup gue. Dunia kita itu beda! Hust.. hust..” silvi menngingat perkataan bayu. Akhirnya mata bulat gadis itu terus mengalirkan air mata. Dia tidak akan bisa berkata-kata lagi sekarang. Pemuda itu sudah mengusirnya, itu artinya dia tetap bermimpi akan berteman dengan sosok manusia. Padahal itu keinginannya dari dulu setelah ia menjadi hantu. Beda dengan sanak saudaranya yang sangat membenci manusia dan selalu menakut-takuti manusia. Huft… silvi tertidur untuk melupakan semua yang sudah terjadi padanya!

cinta beda dunia

“rese banget sih jalangkung.. gile bener gue ditinggal. Malah gue lupa bawa dompet lagi.. argh.. sial!” gontok bayu sembari menendang kaleng yang ada didepannya. “adohhh!” itu suara seorang gadis misterius. “waduhh kena orang tu..” desis bayu sambil berjalan cepat pulang ke rumahnya. Hari ini nasib bayu terbilang buruk. Belakangan ini dia selalu diganggu makhluk lain. Tepatnya saat kepergian mila, pacarnya dulu. Dan sekarang, bayu harus jalan sendirian malam-malam karena ditinggal sahabatnya yang bernama gerald. Katanya mereka habis makan di cafe. Tak tahu kenapa sahabatnya yang bertubuh cungkring itu meninggalkan bayu. Mungkin sudah takdir kali!
Tak disangka mobil dengan kecepatan tinggi oleng mengarah pada bayu. Sontak bayu diam terkujur kaku, bukannya menghindar justru malah diam di tempat. Kaya di sinetron aja deh! Tapi untunglah takdir baiknya ada, entah angin dari mana bisa-bisa mobil itu berhenti tepat beberapa mili meter di depan bayu. “elo??…” ucap bayu ketika melihat sosok perempuan yang pernah ia kenal berusaha menghentikan mobilnya. “lari lo! Cepet! gue uda nggak kuat nii” ucap gadis itu yang bernama silvi. Bayu mengangguk-angguk dan menghindar dari mobil itu. Setelah semuanya baik, barulah silvi menghentikan mobil gila itu di depan pohon besar. “pengemudi edan!” deris bayu.
Silvi mulai kewalahan kehabisan tenaga. Gadis itu harus kembali ke rumahnya. Saat hendak mau terbang, tenaganya sudah tidak kuat menanggung badannya. gubrrakkk! silvi jatuh seketika. Bayu yang melihat hal itu langsung berlari menghampiri silvi. “heii.. heii..” ucap bayu memanggil gadis itu. Tak ada jawaban dari silvi. Kali ini bayu menyentuh wajahnya. Tidak bisa! Hanya bayangan! “oh iya, dia kan hantu” derisnya dalam hati. “aduhh…” kata silvi meratapi kepalanya ia setelah sadar. Silvi dan bayu saling menatap. Sama-sama diam tanpa kata. “kok gue deg-degan lagi sih?!” ucap mereka dalam hati. “gue mau pulang!” ketus silvi bangkit dan berjalan meninggalkan bayu. “aneh.. dia hantu kan? Tapi kok nggak keliatan seremnya ya. Cantik kok dia” deris bayu dalam hati. “woii hantu.. ehh maksudnya wooii manusia.. hah dia kan bukan manusia.. ehh alien.. astaga jelek banget.. ehh alah keburu pergi dah dia..”
Bayu dan silvi berpisah di tempat ini. Nasib si pengmudi? Dia selamat kok. Tapi entah kenapa penegemudi itu nggak keluar-keluar. Mabuk kali dia!
“silviii.. kenapa muka lo keringetan? habis ngangkat barbel ya?” ucap sepupunya, mila.
“tau ah!” jawab silvi singkat. Silvi duduk di atas genteng rumahnya. “belagu banget sih tu orang. Gue pikir gue mau ditolongi siap itu, ehh malah diam kayak patung!” gontok silvi. “lo nolongi siapa, sil?” ternyata mila membututinya sampai ke genteng rumah. “tu la.. gue habis nolongin laki-laki itu. Ehh dia malah diem aja nggak bantuin gue balik”
“cowok itu bisa ngelihat elo, sil?”
“hah?! Um.. nggak.. nggak.. nggak kok, mil. Gue kan Cuma gadis pemimpi. Haha mana mugkin!” silvi menunduk memandangi kalung gitarnya. Sudah lama ia tidak mendengarkan alat musik itu. Pikiran untuk menemui bayu masih terbesit dalam pikirannya. “gue mau cari udara segar! Byee mil…” ucap silvi langsung terbang ke arah barat dari rumahnya. Mila memutuskan untuk diam di rumah.
Setelah sampai di kamar bayu, silvi mendapati pemuda itu sudah tidur dengan nyenyak. “woi gue pinjem gitar lo ya!” bisik silvi. Dengan lihai, silvi mulai memainkan gitar milik bayu. Mendengar suara gadis bernyanyi dan alunan musik gitar membuat bayu terbangun dari tidurnya. Silvi tidak tahu bayu terbangun, asyik saja ia bernyanyi dengan suaranya. “gue mimpi kan?” ucap bayu sembari menampar-tampar wajahnya. “nggak.. gue nggak mimpi. Ini cewek beneran bisa main gitar. Hantu luar biasa dah!” desisnya dalam hati,
“ye.. just for you I give you all my heart” bayu ikutan bernyanyi. Silvi terdiam. “kok berhenti sih.. sini biar gue aja yang maini. Lo yang nyanyi” bayu duduk di depan kamarnya. tepatnya di luar kamar. Bayu mulai memetik gitar itu. Deg.. deg itu suara jantung keduanya. Silvi mulai bernyanyi kembali. “ehh bukan! salah tuu..”
“biariin, ini versi gue kok” silvi tak mau mengalah. “eh nengel, salah itu!”
“nggak!”
“salah!”
Silvi diam. “ya.. ya suka hati lo la” bayu yang mengalah. Akhirnya keduanya tetap melanjutkan permainan musik mereka walaupun terdengar agak ngawur. Biarin yang penting happy! Begitu moto mereka. “um.. lo uda nggak takut lagi sama gue?” itu pertanyaan yang ditujukan untuk bayu. Bayu kewalahan dan kebingungan menjawab pertanyaan silvi. “gue bukan penakut kali” lagak bayu pura-pura orang paling berani, padahal aslinya.. hm mengharukan!
“sorry ya kalau selama ini saudara-saudara gue nakuti elo”
“ahh gue nggak takut kok”
cliiinggg! silvi menghilang begitu saja. “iyaa… iiyaa.. gue nyerah… gue penakut.. please jangan ilang mendadak gini dong” teriak bayu ketakutan. “tu kan! Jangan belagu lo!” cengir silvi. Bayu dan silvi sama-sama diam.
“lo kok nggak mau nakuti manusia?” kali ini bayu yang bertanya. “karena gue… gue… gue kepingin bisa bersahabat dengan manusia. Segala upaya uda gue lakui, nyatanya manusia masih takut sama gue..”
“gue mau kok jadi sahabat lo”
“hah?!”
Bayu mengangguk. Astaga.. mimpi apa gadis ini tadi siang. Sampai-sampai pemuda ini dengan mantapnya menyetujui permohonan silvi. Silvi menangis terharu. “bener lo mau jadi sahabat gue?” ucap silvi meyakinkan. Bayu mengangguk. Spontan gadis itu teriak-teriak dan tanpa sengaja ia memeluk bayu. Tapi tidak bisa! Sebab dia manusia bukan termasuk golonganya. “um.. maaf..” silvi menunduk malu. Ada rasa deg-degan di jantung bayu saat silvi tidak sengaja memeluknya. Bukan karena ia takut, tapi entah kenapa bayu merasa ada kenyamanan bila dekat dengan gadis ini.
Semua kembali hening. Mereka menatapi pohon dan rembulan disana. Sampai akhirnya bayu memberanikan diri untuk mengenalkan dirinya. “gue bayu. Disini rumah gue”
Silvi tersenyum. “gue silvi. rumah gue di suaka indah”
“hantu punya rumah?”
“lo ngeledek gue?” Bayu tercengir-cengir. “um… lo kenapa bisa jadi hantu?”
“gue ditabrak bay.” Bayu mengeritkan keningnya. “lah kok bisa?”
“yah bisa la!” silvi menarik nafas panjang “gue kecelakaan, nggak tahu deh siapa yang nabrak… emh.. bay kamu …” belum lagi silvi selesai bicara, dimas tiba-tiba ke luar dari rumah. “bayu? lo ngomong sama siapa tadi?”
Bayu kebingungan. Kalau dia berkata jujur, yang ada sahabatnya ini akan menduga dia yang nggak-nggak. Terpaksa bohong dikit deh. “gue habis buat drama, dim. Lo tahu sendiri kan gue orangnya dramatis!” dimas terpelongo bengong. “kenapa sih kawan gue yang satu ini” dimas menggeleng-gelelengkan kepalanya dan pergi masuk rumah.
“udah.. uda.. gih sana lo pulang, sil. Entar dicariin lagi!”
Silvi mengangguk dan tersenyum. duh melihat senyuman itu bayu jadi salah tingkah deh. “daaa..” ucap silvi sembari terbang dan meninggalkan bayu. “huh… coba aja satu dunia. Uda gue nikahi tu cewek!” gumamnya. Bayu kembali masuk dan melanjuti tidurnya.
Keesokan harinya..
Di Taman sekolah, bayu melihat sosok gadis yang mirip dengan silvi. Untuk meyakinkan pengelihatannya itu benar atau tidak, bayu mengucek-kucek matanya. “woii…” panggil bayu. “kamu manggil aku?” ucap gadis berambut panjang dan berponi. “ehh bukan, gue manggil cewek yang ada di belakang lo!” tunjuk bayu. Tidak ada siapa-siapa disana! Gadis itu menoleh ke belakang. “cowok aneh!” ucap gadis itu sembari pergi meninggalkan bayu.
“elo tu yang aneh! Uda jelas-jelas ada orang disini!”
“haaha.. haha.. haha.. rasain lo kan dibilangin cowok aneh!” ledek silvi. “gara-gara elo juga sih! oh ya, lo ngapain disini. Mau belajar juga? belajar apaan? Ilmu ngilang?”
“gue minta tolong sama lo, bay” silvi mulai bicara serius. Wajah bayu yang tadinya adem jadi kelihatan serius kaya nonton film action! “gue nggak bisa terus gentayangan gini. Gue minta tolong sama lo. Carikan jasad gue. Please…”
“hah?!” bayu terkejut bukan kepalang. Ada rasa takut juga harus melakukan hal konyol itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika bayu tidak membantu silvi. Pasti gadis itu tidak akan bahagia di alamnya. Lama bayu termenung untuk memberikan jawaban sampai akhirnya silvi menangis di depannya. Tangisannya itu begitu memilukan. Bayu menarik napas panjang. “iya.. dimana lo ditabrak?”
“jalan patuan nagari, jembatan indah”
“gilaa itu serem banget, sil”
“gue temenin, bay. Please…” tiba-tiba silvi bisa memegang tangan bayu. “loh.. loh.. ada apa ini. Kok.. kok.. lo bisa nyentuh gue?”
“gue juga nggak tahu. Itu nggak penting, lo mau kan nolongin gue? Gue janji kalau lo bisa nemui jasad gue. Gue bahkalan nggak pernah lagi muncul di depan lo”
Bayu diam. Sebenarnya dengan tidak mencari jasad silvi pun bayu bahagia bersamanya. Setiap hari bisa melihatnya. Dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan gadis itu. Walaupun kenyataanya perasaan itu jatuh pada orang yang sudah mati. “bay.. please..” ucap silvi terus menangis. Bayu mengangguk mau. “oke entar malam gue bahkalan nyari jasad lo” silvi tersenyum.
“kayaknya kawan kita memang sakit deh, dim” ucap gerald yang dari tadi memperhatikan bayu dari kejauhan. Dimas menggelengkan kepalanya.
Malam hari.. “lo mau kemana bay?” ucap dimas
“beli nasi goreng!” singkat bayu langsung pergi dengan motornya. Sesampainya di tempat yang mereka cari. Mata bayu terus mengamati persimpangan jalan dekat pepohonan hijau. “itu jasad lo ya?” tanya bayu. Silvi mengangguk dan tersenyum. “kuburkan ya, bay” ujar silvi.
Ngeri juga sih melihat jasadnya silvi. Tercium bau mayat yang sudah lama, apalagi ditambah luka darah di sekujur tubuhnya. Mau nggak mau bayu harus menolong gadis itu. Dengan mengendap-endap bayu membawa jasad silvi ke pedalaman jembatan indah. ia gali tanah di sekitar itu. Dan masukkan jasad silvi. Bayu menaburi bunga 15 bunga mawar putih tanda terimakasih karena sudah mengisi hari kesepiannya. Bayu bernapas lega.. silvi sudah tenang di alamnya. Entah sampai kapan dia tidak bisa bertemu lagi dengan gadis itu
“gue jatuh cinta sama lo, sil” desisnya.
“apa bay? Lo suka sama gue?!”
“Allahuakbar..” bayu terlepas seketika.
“lo kok bisa muncul, sil”
“gue kan mau nganterin lo pulang. Katanya lo takut”
Bayu tercengir. Jantungnya deg-degan saat itu. Silvi maju menghampiri bayu. Gadis itu kembali menangis, hari ini hari terakhirnya dia akan melihat laki-laki yang berhasil memikat hatinya. “terimakasih lo uda mau nolongi gue bay”
Astaga, disinilah.. disinilah pemuda maco itu ikut menangis masuk dalam kesedihan silvi. Bayu langsung memeluk silvi. “suatu hari nanti, gue bahkalan hidup dengan dunia yang sama, sil. Gue sayang sama lo” ucapnya
“gue juga sayang sama lo, bay!” silvi melepaskan pelukan bayu. Dengan perasaan sedih, takut, galau, gelisah campur aduk jadi urapan, akhirnya pemuda berwajah polos itu pergi meninggalkan jembatan itu. Disana termpatnya sangat rawan kecelakaan. banyak pengemudi tewas di tempat karena kecepatan di jalan ini cukup cepat. Alhasil dari arah belakang, mobil sedan menghantam sepeda motor bayu.
Bayu sempat dilarikan ke rumah sakit. Dimas dan gerald juga ada disana. Segala upaya dokter untuk menyelamatkan nyawa bayu sia-sia. Jantungnya tidak merespon untuk berdetak. Sampai beberapa jam kemudian, bayu meninggal dunia.
Di suatu tempat, bayu bertemu kembali dengan silvi. “kan gue uda bilang, kita bahkalan hidup di satu dunia” ucap bayu “untung aja lo nggak bunuh diri gara-gara kepingin ngejer cinta gue. Ye kan?”
“dasar! Kepedean!” bayu tertawa lepas sedangkan silvi tercengir-cengir kaya kuda habis kejepit. Hiiiikkk.. mereka hidup bersama satu kelurahan. Bayu juga bertemu dengan mantan pacarnya, mila. Sekarang mila justru menjalin asmara dengan lak-laki lain. Ahh bagi bayu itu tidak masalah! Tahu juga mila bahagia dengan pasangannya. Begitupun dengannya, dia bahagia dengan silvi.
The end

manusia boneka

Tony bukanlah seorang pecandu, Usianya sangat muda, sejak kecil Tony tidak terlalu banyak bicara, dia lebih suka bemain bersama boneka-boneka koleksinya. Dia orang yang mandiri selalu tinggal sendirian dan hidupnya jauh dari keluarga dan teman-temannya.
Suatu hari Tony pulang kerja dari kantornya, dia memutuskan berjalan kaki ke rumahnya dari pada menggunakan kendaraan. Baru beberapa meter berjalan, pandangannya teralihkan pada sebuah toko boneka Dollest yang baru buka. Tempat itu sangat dekat dengan tempat kerjanya. Tony lalu mampir ke toko itu. Dilihat dari luar, Bangunan toko itu tidak tampak besar, sisa-sisa zaman belanda masih dapat dilihat dari ornamen-ornamen khas eropa di bagian depan gedung. Dinding-dindingnya dicat putih seperti aslinya. Tony masuk ke dalam toko itu. Begitu di dalam, Tony terpukau melihat bagian dalam toko. Permukaan dindingnya didominasi menggunakan wallpaper desain vintage, ada juga barang seperti ban mobil dan tong sampah dibalut kreativitas menjadi meja dan kursi untuk para pengunjung. Namun yang lebih menarik perhatian Tony adalah macam-macam boneka yang disusun rapi pada lemari kayu. Ada boneka ningyo dan daruma dari jepang, dan matrashka dari rusia.
Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya. “Ada yang bisa kubantu?” Tony terkejut, lalu melihat pria tua itu.
“Oh!” Seru Tony. Pria tua itu memandang Tony sejenak lalu tersenyum.
“Kulihat anda begitu suka boneka. Kenalkan, saya Antonio pemilik toko ini”
“Tony pak, bonekanya bagus-bagus” kata Tony yang terus saja memandangi boneka-boneka sekelilingnya.
“Semuanya didatangkan dari seluruh dunia. Tiap negara memiliki budayanya masing-masing termasuk boneka juga… Anda mau saya bantu mencarikan boneka yang anda suka?”
“Boleh, saya mau lihat-lihat dulu” kata Tony.
Antonio lalu mengajak Tony berkeliling toko. Tony sempat bingung dalam memilih jenis boneka yang ingin dibelinya. Setelah memilah-milah Tony akhirnya membeli boneka kayu. “Itu pilihan yang bagus” kata Antonio. Tony pun lalu mengambilnya dan memesan tiga boneka terbaru.
Selama beberapa minggu, Tony selalu saja berkunjung ke Dolest. Dia semakin sering bertemu Antonio ketika membeli boneka. Pada hari libur, Tony berkunjung ke Dollest, seperti biasa Antonio menyambutnya dengan ramah. “Nah! Apa yang pak Tony butuhkan sekarang?” Kata Antonio.
“Aku mau Kokhosi, tidak! Yang baru masih ada?” Antonio berpikir sejenak lalu menggeleng perlahan. “Wah sayang, belum ada kiriman barang sejak kemarin” Tony begitu kecewa lalu memutuskan melihat boneka lain. Namun tiba-tiba Antonio memanggilnya.
“Tunggu dulu pak Tony!” Kata Antonio.
“Ada apa?” Tanya Tony.
“Sebenarnya, saya masih punya simpanan boneka yang benar-benar unik. Tapi bukan untuk dijual”
“Kenapa?” Tanya Tony penasaran. “boneka ini masih ada kekurangannya, jadi ada bagian yang masih belum sempurna..”
“Apa yang kurang? Boleh saya melihatnya? Antonio mengeleng.
“Maaf, boneka unik ini bukan untuk diperlihatkan, mungkin ada pengecualian untuk pak Tony karena sudah menjadi pelanggan toko saya”
“Benarkah? Jadi saya boleh melihatnya”
“Saya jelaskan semuannya nanti malam, sekarang saya sedang bekerja, kalau Pak Tony berminat, kembali saja nanti malam jam tujuh”
“Saya sudah pasti kembali pak Antony” kata Tony.
Setelah pulang dari Dollest, Tony lebih banyak menghabiskan waktunya seharian dengan tidur, makan dan menonton tv. Setelah memasuki jam delapan malam, Tony sudah siap berangkat menuju Dollest dengan kendaraan umum. Begitu tiba, Tony melihat lampu-lampu di dalam toko sudah padam namun pintunya tetap terbuka. Tony mulai memasuki toko, begitu di dalam Tony tidak dapat melihat apapun akibat gelap gulita. Tiba-tiba seseorang mencekram pundaknya dari belakang. ketika Tony menengoknya, ternyata Antonio yang berdiri di belakangnya. “Aduh pak! Jangan bikin kaget begitu”
“Maaf! Saya tidak bermaksud mengagetkan, toko mau saya tutup sekarang” kemudian mereka ke luar dari dalam toko. Antonio menutup pintunya dan mengeluarkan sebuah kunci berlambang tengkorak dari saku jaketnya. Kemudian pintu dikunci dan tangannya menarik-narik ganggang pintunya memastikan sudah terkunci. Antonio kembali mengantongi kuncinya.
“Tunggu sebentar” kata Antonio sambil berjalan ke tepi jalan menengok kanan kiri. Kemudian melambaikan tangan ketika mobil taksi lewat. Saat itu taksi mulai berhenti ke tepi jalan. Antionio berjalan mendekat dan bicara dengan suara berbisik pada supir taxi, Antonio lalu memanggil Tony yang masih berdiri di depan tokonya.
“Ayo pak Tony!” Kata Antonio.
Setelah masuk ke dalam mobil, Tony duduk di kursi belakang sementara Antonio duduk di samping supir. “Kita mau kemana pak Antony?” Tanya Tony. “Rumah saya pak Tony” jawab Antony singkat.
Setelah beberapa menit perjalanan, taksi yang mereka tumpangi berhenti. Antonio melihat angka argo taxi dan mengeluarkan sejumah uang untuk membayar. Mereka kemudian keluar dari dalam mobil. Antonio berjalan memasuki sebuah gang dan Tony mengikuti pula kemana Antonio pergi. Setelah melewati jalan menurun, Tony tiba di depan rumah dengan pintu berkepala naga. Antonio membuka pintunya. “Ayo masuk!” Kata Antonio. Tony mulai melangkah memasuki rumah itu. Begitu di dalam, Tony melihat banyak pahatan kayu yang tergeletak dimana-mana. “Maaf ya pak Tony, rumah saya seperti kapal pecah” kata Antony. Tony melihat seorang kakek yang baru ke luar dari dapur. Kakek itu berjalan memakai tongkat bantu. Ia tersenyum ketika melihat Tony.
“Pak Tony, kenalkan dia Lin pembuat boneka di toko saya, dulunya Lin seniman pemahat es terkenal”
“Saya Tony” kata Tony memperkenalkan diri. Lin menatap Tony dengan tajam, sesekali ia memandangi Tony dari kaki hingga ujung rambut. Ia mengerutkan dagu sambil menganggukan kepalanya.
“Kamu tamu yang datang kemari sejak 15 tahun terakhir, mau minuman gingseng? Saya baru buat barusan”
“Iya. Terimakasih” kata Tony.
“Ayo pak Tony” kata Antonio yang duduk di kursi kayu dengan meja persegi. Antonio mengambil sebatang rok*k dari saku celananya. Lin berbalik pergi ke dapur.
“Ayo duduk pak Tony!” Kata Antonio lagi mempersilahkan duduk. Tony pun duduk bersebelahan dengan Antonio. Tidak lama kemudian Lin kembali membawa segelas minuman gingseng, ia meletakannya di atas meja tempat Tony duduk. “Ayo dicicipi ini buatanku sendiri”
“Terimakasih! Maaf sudah merepotkan” Lin langsung saja pergi ke kamarnya. Antonio menyalakan pemantik apinya, membakar sedikit demi sedikit ujung rok*knya. “Pak Antonio, tidak minum juga?”
“Saya nanti saja, ayo pak diminum!” Tony baru pertama mencicipi minuman dari gingseng. Begitu diminum, terdapat macam-macam rasa di lidahnya, ada manis, asem, pahit dan tetap terasa segar. Tony sangat haus dan meneguk habis minumannya. Setelah menghabiskan minumannya, Antonio kini mulai bicara.
“Pak Tony, sudah pernah dengar manusia boneka?” Tony menggeleng karena tidak tahu. “Saya baru tahu tuh!” Jawab Tony. Antonio menghela nafas sejenak lalu tersenyum. “Manusia boneka semacam proses mengubah jasad menjadi boneka. Jika semua prosesnya saya jelaskan pasti terdengar keji bagi pak Tony. Sudah lama saya mencoba membuatnya ketika teman saya meninggal akibat kecelakaan, saya kehilangan satu-satunya teman baik saya. Saya mulai berpikir waktu itu untuk mengawetkan jasadnya, tiba-tiba muncul ide brilian! saya ingin membuat manusia boneka pertama. Teman saya itu tidak memiliki keluarga atau kerabat, jadi saya sendiri yang mengurus jenazahnya. Pertama saya awetkan tubunya, Tapi sayang, setelah diawetkan terjadi masalah. Masih ada yang kurang sehingga belum sempurna” Antonio lalu memandangi Tony. Tony mulai merasakan suasana tidak enak. “Pak Antonio bercanda?”
“Tidak, saya tidak bercanda, sudah hampir 20 tahun. Walau belum sempurna, manusia boneka buatanku masih tetap bertahan sampai sekarang. Nah! Saya mau kasih anda kesempatan, bagaimana? Saya baru membuatnya satu boneka manusia saja. Saya yakin anda tidak akan mendapatkannya dimanapun” Tony hanya tersenyum.
“Pak Antonio bilang memakai jasad manusia, apa itu tidak keterlaluan?”
Antonio tidak mengindahkan pertanyaan Tony.
“Saya hanya ingin memberikan yang terbaik buat penggemar boneka seperti anda” saat itu Tony mulai melihat jam di lengan kirinya dan melihat pintu ke luar. Tony berdiri lalu memandangi Antonio yang sedang duduk santai sambil merok*k. “Ini sudah larut, saya harus segera cepat pulang, karena besok saya bekerja” Antonio tersenyum.
“Terimakasih kunjungannya pak Tony, saya yakin anda pasti kembali!” Tony berjalan dengan cepat menuju pintu ke luar. Sementara Antonio tetap tidak bergeming di tempatnya.
Saat pagi hari, Tony mulai bangun dan memandangi jam dinding telah masuk pukul sepuluh pagi. Sejak semalam, Tony tidak dapat tidur dengan nyenyak akibat halusinasi yang tidak pernah dialaminya. Tony segera meninggalkan tempat tidurnya. Ketika bercermin, Tony terkejut melihat wajahnya penuh dengan bintik-bintik merah. Saat disentuh terasa sangat sakit, Tony terpaksa tidak bekerja akibat terlambat dan luka bintik di wajahnya. Saat melangkah menuju kamar mandi, Tony merasakan pusing di kepalanya. Tony pun duduk kembali di kasurnya dan mengingat-ngingat kembali kejadian kemarin malam sebelum kondisi sekarang. Tony mengingat pernah meminum minuman buatan Lin. Setelah pulang dari rumah Antonio, Tony sudah tidak makan apa-apa lagi. Selama ini Tony tidak pernah sakit apalagi mempunyai riwayat sakit berat. Tony memutuskan pergi ke Dollest mempertanyakan minuman Lin. Tony pergi menggunakan mobilnya. Saat tiba, Tony ke luar dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam Dollest. “Selamat datang… Pak Tony, kenapa?” Kata Antonio ketika melihat Tony yang datang dengan wajah penuh bintik merah. “Apa yang pak Lin masukan pada minuman saya!” Tony begitu kesal dan suaranya mengguntur di dalam toko. “Tenang dulu pak Tony, memang ada apa?” Antonio menatap wajah Tony yang penuh bintik-bintik dari dekat. “Lihat saja nih! Wajah saya jadi begini!”
“Oh Maaf pak Tony! Saya tidak tahu, saya akan berusaha membantu, tapi anda harus tenang dulu” Tony menghela nafas sejenak. “Ok! Saya minta pertanggung jawabannya atas yang menimpa saya!”
“Iya, saya mengerti, tapi ada persyaratannya..”
“Syarat apa lagi! Lihat muka saya..”
“Dengarkan dulu, saya tidak minta apapun Pak Tony, saya hanya minta sampel darah anda” potong Antonio. Tony berpikir sejenak mempertimbangkan permintaan Antonio. “Ok.. terserah saja!” Kini Tony sudah tidak terlihat marah. “Tunggu sebentar, saya ambilkan dulu jarum suntik dan obat-obatan” Antonio segera pergi mengambil sebuah kotak obat. Setelah kembali, Antonio lalu mulai mengambil sedikit darah Tony, lalu ketika selesai, Antonio memasukan darah yang diambilnya menggunakan suntikan ke dalam botol kecil, lalu Antonio memasukannya ke dalam saku celana.
“Sudah selesai pak Tony, tolong saya minta tanda tangan anda di kertas kosong ini”
“Untuk apa?” Tanya Tony yang memegangi pundaknya akibat pegal, setelah darahnya diambil menggunakan jarum suntik.
“Saya akan memerlukannya nanti jika terjadi sesuatu, saya khawatir di sampel darah anda terdapat zat kimia beracun, maka saya perlu mengeceknya dulu di laboraturium, saya butuh tanda tangan anda untuk izin ke dalam lab, bukti saya sudah mendapat persetujuan dari pemilik sampel. Besok saya jamin semuanya beres, andai benar pak Tony seperti ini akibat minuman dari Pak Lin, itu bisa jadi kesalahan saya. Saya akan bertanggung jawab dan mencarikan anda obat, untuk sekarang lebih baik Pak Tony pulang dulu dan segera istirahat, hari ini toko saya tutup lebih cepat, untuk memeriksa ini” Antonio menunjukan botol kecil yang terdapat darah Tony.
“Besok secepatnya pak Antonio, aku tidak mau terus begini”
“Pasti” jawab Tony.
Pada pagi hari Tony bangun lebih awal. Kali ini sekujur tubuhnya terasa begitu sakit. Ketika berkaca, Tony sangat terkejut melihat bintik-bintik di wajahnya semakin bertambah. Ketika membuka baju, bintik di wajahnya semakin bertambah ke seluruh badannya, matanya kini mulai memerah. Tony mersakan semakin parah dengan kesehatannya. Ia pun segera menuju Dollest mengendarai Mobilnya. Ketika tiba, Tony memakirkan kendarannya dan menuju Dollest. Namun saat itu pintunya terkunci, Tony mengetuk pintu dengan keras. “Antonio! buka pintunya!” Teriak Tony. Kini nafas Tony mulai tersengal-tersengal. tidak lama kemudian Antonio membukakan pintu. “Wah pak Tony anda datang pagi sekali” sapa Antonio dengan tersenyum. “Antonio! mana obatnya!” Tony mulai terkulai lemas, matanya kini mulai berkunang-kunang. “Maaf pak Tony, Mari ikut saya” Mereka lalu memasuki gudang boneka. Ketika di dalam begitu gelap, Antonio mulai menyalakan lampunya saat itu terlihat ada sebuah pintu di dalam gudang. Antonio kemudian membuka pintunya, Tony melihat lorong panjang yang dipenuhi lemari-lemari kayu berderet rapih. mereka mulai berjalan di lorong, saat itu Antonio berhenti di depan sebuah pintu bertanda silang. Antonio mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya lalu membukakan pintu. Ketika Tony melihat ke dalam hanya ada sebuah peti kayu hitam. Antonio melangkah mendekati peti itu. “Ayo Silahkan!” Tony merasa aneh melihat ruangan yang luas hanya menempatkan sebuah peti. “Apa maksudnya ini? Mana obat yang pak Antonio janjikan?” Antonio membukakan pintu petinya. Tony melihat tubuh manusia sedang terbaring, namun yang lebih mengejutkan, wajahnya mirip sekali dengan Tony. Tubuh itu berkepala pelontos hanya menggunakan celana pendek saja, sementara warna kulitnya sudah mulai membiru, terlihat jelas bekas luka jahitan dan beberapa tonjolan pada bagian perut hingga leher. Kedua mata tubuh itu terus terbuka seakan-seakan bisa melihat dan bangun kapan saja. Tony menyentuh bagian kulit tubuh itu yang ada di peti. Terasa dingin di jemarinya, ketika jari telunjuk Tony menekan-nekan bagian perut tubuh peti itu. Tony merasakan empuk, seperti ada kapas di dalamnya. Tony terus saja meraba-rabanya hingga mencapai kepala, Tony tidak merasakan ada tulang dan daging pada tubuh di peti itu. Tubuh itu di dalamnya sudah seperti diisi banyak kapas dan berubah seperti boneka kain. “Antonio, apa dia temanmu?” Sebelum Antonio menjawab, Tiba-tiba Tony merasakan sakit di punggungnya, saat melangkahkan kaki kirinya begitu berat, kedua tangannya tidak bisa bergerak akibat rasa sakit. Semua saraf-saraf tubuhnya mulai menimbulkan sakit. Tony terjatuh dan hidungnya kini mengeluarkan darah. denyut jantungnya melambat, pandangannya semakin kabur dan organ-organ tubuhnya mulai menimbulkan nyeri. “Bukan, dulu orang ini namanya Royi. Dia penggemar boneka, sering sekali belanja boneka di tokoku. Dia termasuk orang yang sangat royal, menghabiskan uangnya hanya untuk mendapatkan benda mati, usianya hampir sama seperti anda” jawab Antonio. Tony memandang Antonio sambil menahan sakit. “Dia meninggal karena apa?”
Antonio terdiam tanpa bergeming, lalu mengeluarkan sebatang rok*k dari saku celananya, dia kemudian tersenyum. “Dia tewas akibat meminum sesuatu di rumahku pak Tony” Tiba-tiba Lin muncul di depan pintu, Tony melihat Lin berjalan dengan normal tanpa menggunakan tongkat bantu. “Kerjamu bagus Jerkin! Darahnya itu bisa digunakan Untuk melanjutkan percobaanku. Tubuh itu kamu atur supaya dibuat kecelakaan, keluarganya mengira pasti dia sudah meninggal, mereka tidak akan pernah tahu identitas tubuh yang telah hancur” Ujar Lin.
“Dia tidak punya keluarga atau teman” kata Antonio.
“Bagus! Semakin sempurna”
“Apa maksudnya ini?… Antonio!.. cepat tolong aku” Tony melihat Lin sudah berubah, dia tidak terlihat tua jika dibandingkan ketika di rumah Antonio. “Maaf Pak Tony, anda sudah sangat lama ditunggu-tunggu untuk menjadi manusia boneka selanjutnya, anda tidak mungkin tertolong lagi. Dalam hitungan hari anda pasti akan mati” Tony berusaha memaksakan badannya untuk bergerak. Namun menimbulkan sakit di badannya, hingga Tony tidak mampu bergerak kembali. “Padahal, saya sangat mempercayai Pak Antonio” Tony memandang Antonio dengan penuh amarah. “Masukan dia ke dalam peti!” Perintah Lin.
Antonio mengeluarkan tubuh itu dari petinya lalu menggotong Tony untuk masuk dalam peti. Tony berusaha melawan namun tidak mampu bergerak, Tony mulai menangis untuk dikasihani namun Antonio tidak bergeming. “Pak Antonio tolonglah.. bukankah saya pelanggan setia dari tokomu” Antonio berhenti, berfikir sejenak. “Anda benar pak Tony…”
“Ada apa Jerkin? Cepat masukan dia kedalam peti” Tony merasa masih punya harapan, terlihat Antonio mulai berubah pikiran. “Ada apa? Kenapa diam saja Jerkin!” Lin mulai terlihat marah dan mulai mengacungkan pisaunya. “tapi… sepertinya… orang yang tepat hanya Pak Tony saja yang dapat menjadi manusia boneka sempurna” Lin mulai bernafas lega, lalu menurunkan kembali pisau miliknya. “Bagus Jerkin!”
“Dasar gila!” Teriak Tony dengan kesal. Antonio memasukan Tony ke dalam peti lalu ditutup dan dikuncinya dengan gembok. Tony terus saja berteriak meminta tolong. Namun tidak ada siapapun yang datang menolongnya. Kali ini, Tony ada di tempat yang gelap dan sunyi bersama sisa-sisa penyesalan